Membaca M Irfan Hidayatulah, Mengamati Matahari Yang Terbit di Dadanya
Posted on 05. Jul, 2005 by Jonru in Profil
Pasca kepengurusan Helvy Tiana Rosa, Forum Lingkar Pena (FLP) kini diketuai oleh M. Irfan Hidayatullah (MIH), yang berpredikat sebagai penulis, dosen dan kandidat Magister dari Fakultas Ilmu Budaya, UI. Predikat ini persis sama dengan ketua sebelumnya. Entah hanya sebuah kebetulan atau memang ada maksud lain dari semua ini, yang jelas semoga FLP tidak seperti KPU yang sebagian besar berasal dari FISIP UI tetapi ternyata bermoral bobrok dan saling berkorupsi ria tanpa jengah dengan keterpurukan negara.
FLP sebagai sebuah komunitas kepenulisan sudah tak bisa disangkal lagi eksistensinya. Komunitas ini telah melahirkan begitu banyak para penulis yang meramaikan khazanah kepenulisan di Indonesia. Selain menciptakan penulis yang produktif, secara langsung ataupun tidak, FLP telah menciptakan penerbit-penerbit yang concern dalam tulisan-tulisan islami dan human interest. Dampak dari mata rantai ini, FLP juga membuat lapangan pembaca yang begitu fanatik, terutama pembaca remaja, dan ketika membincangkan remaja maka konsumsi mereka tidak jauh dengan produk-produk populer. Maka sangat wajar jika para penulis FLP lebih banyak memproduksi karya-karya yang populer yang mudah untuk diterima pasar.
Pada kepengurusan MIH, FLP lebih menitikberatkan pada kualitas karya, terbukti dengan dibukanya sebuah divisi baru yang dinamakan dengan Divisi Kritik dan Litbang yang dimotori oleh Ekky Malaki. Tentu saja pekerjaan ini sangat berat untuk dilakukan, apa lagi dengan brand image yang sudah terbentuk selama ini. Permasalahan yang penting untuk ditanyakan adalah bagaimanakah ukuran kualitas itu? Pertanyaan ini penting untuk digulirkan sebagai parameter dalam mengukur keberhasilan pengurus pasca Helvy Tiana Rosa, walaupun kita sendiri tahu bahwa parameter dalam bersastra tidak bisa diukur oleh penggaris. Sebelum kita mengamati keberlanjutan kepengurusan MIH, ada baiknya jika kita mencoba untuk menelusuri dan menguliti karya-karya MIH.
MIH mulai mencuat namanya pada tahun 1999 ketika karyanya menjadi pemenang ke-1 lomba menulis cerpen (LMCPI IV) yang diadakan oleh majalah Annida. Cerpen berjudul “Kucing” memang layak untuk menjadi juara karena gaya menulisnya yang mengusung diksi-diksi metaforis. Cerpen ini mengisahkan tentang seorang lelaki yang berubah menjadi kucing, nilai metafor menjadi pengikat keseluruhan penceritaan. Sebagaimana halnya sifat kucing, sang aku bersifat kucing pula.
Konfliknya menghebat ketika ia bertemu dengan sepuluh anjing yang menjadi musuh bebuyutannya, maka perkelahianpun tak terelakan lagi. Ia diburu oleh anjing-anjing yang liar itu, tak hanya bermusuhan seperti halnya tokoh kartun Tom and Jerry, tapi juga mencoba untuk membunuh dan kucing garong itu koyak-moyak oleh cakar-cakar anjing. Darahnya muncrat membasahi kelengangan di bulan purnama. Sayangnya ketika pembaca larut dengan karakter ke-kucing-an, tiba-tiba cerpen ini dimentahkan dengan kembalinya kucing menjadi manusia yang ditunggui oleh banyak orang yang tersenyum melihatnya. Lalu anaknya berkata “Ayah, cepatlah sembuh. Tidakkah Ayah rindu shalat berjamaah di mushala kita yang sederhana?” Pertanyaan ini seolah dipaksakan agar tampil islami, atau mungkin karena cerpen ini memang untuk dilombakan di majalah Annida yang mempunyai karekter cerpen-cerpen islami? Atau apakah cerpen islami itu harus melulu dengan simbol-simbol keislaman?
Selain membuat karya satra “serius” , MIH —seperti penulis FLP pada umumnya—juga meproduksi karya sastra populer, seperti “Dan Gue Bukan Robot” (LPPH, 2004), “Kutunggu Kau di Mal” (Zikrul, 2004) dan “Cermin Retak” (LPPH, 2005).
Pada kumpulan cerpen “Kutunggu kau di Mal” MIH menyuguhkan dunia pop culture yang menjadi keseharian dan bersinggungan dengan remaja pada umumnya. Sebagian besar tokoh-tokoh yang jelmakan bernada sama yaitu melakukan “pertobatan” atau menemukan jalan maghfiroh. Seperti dalam cerpen “Kutunggu Kau di Mal” (tokoh Ragil menjadi berkerudung), “Cinta itu Masih Ada” (tokoh Kiki menemukan Tuhannya), Valentin Tahun Ini (Tokoh “Dia” yang tiba-tiba berubah dan menemukan keislamannya), Cover Boys (tokoh Ivan tidak jadi ikut ajang cover boy setelah menemukan pencerahan ketika melihat tukang becak). Dalam menyampaikan gagasan untuk kalangan remaja, penyuguhan cerita hitam-putih memang sangat disukai oleh mereka. Biasanya pembaca remaja tidak mau terlalu lama berkerut kening dan bertanya-tanya apa maksudnya. Mereka lebih suka bacaan yang simpel dan tegas dan MIH sangat mengerti dengan hal ini.
Namun MIH juga mencoba untuk menyisipkan sisi filosofis dan perenungan walaupun dengan bahasa yang tetap keseharian seperti pada cerpen “Eskalator”, “Kisah Pada Sebuah Gerimis”, “Klepto”, “Kupu-Kupu dan Sebuah Sore”, “Lari…Lari…Lari!”, “No Matter What” dan “Elo, Sih!” Yang paling menarik adalah cerpen “Lo, Gue Banget”. Cerpen ini sebetulnya cerpen yang kental dengan unsur psikologis yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Sang tokoh bernama Mimpi yang memilki kecenderungan narsistik, sangat mencintai dirinya sendiri dan kerap kali berdiskusi dengan bayangannya di depan cermin. Tapi di tangan MIH, tokoh Mimpi yang berkarakter “Narcissus” menjadi ringan, enak dibaca dan tidak terlampau menggurui.
MIH mungkin belum terlalu dikenal dikalangan para penulis di Indonesia, namun kesungguhan dan kecerdikannya dalam membuat kebaruan-kebaruan di dalam karyanya membuat ia layak diperhitungkan. Jadi, mari kita amati matahari yang segera terbit di dadanya.
Tanah Air, 2005
Penulis: Firman Venayaksa
Mahasiswa S-2 UI dan Koordiantor Program Rumah Dunia
Tulisan ini dipresentasikan dalam acara Jakarta Book Fair, 26 Juni 2005
=================
Catatan redaksi:
=================
Berikut adalah sejumlah catatan kaki dari penulis yang tidak terdata hubungannya dengan bagian yang diberi catatan, karena adanya perubahan format ketika naskah ini kami terima. Harap maklum.
======================================
Dibukukan dalam antologi cerpen FLP Bandung, Asy Syaamil, 2001.
Ibid. hal.34.
karya MIH lainnya yang bisa dikategorikan karya “serius” terdapat dalam kumpulan cerpen Di ruang Tunggu (Mizan, 2003). Di FLP kecenderungan membuat karya sastra “serius” belum terlalu kentara.
Bisa jadi karena pangsa pasar dan kepentingan penerbit yang pada akhirnya melenakan komunitas ini, yang pada akhirnya berimbas padakritkus sastra yang “enggan” membahas karya-karya FLP yang terlampau biasa. Hanya Helvy Tiana Rosa yang aktif dengan cerpen-cerpen sufistik-realisnya melesat jauh dengan kumpulan cerpennya Lelaki Kabut dan Boneka (Syaamil, 2003). Namun riak-riak menuju ke sana sudah mulai terlihat. Asma Nadia yang menyabet banyak penghargaan telah berhasil bersejajar dengan HTR dan sastrawan lainnya, pun Habiburahman El
Shirazy dengan novel “Ayat-Ayat Cinta” (Republika, 2004) M. Irfan, Sakti Wibowo dan beberapa penulis FLP di wilayah-wilayah yang mencoba menggali kebaruan-kebaruan dengan lokalitas geniusnya masing-masing. Sudah saatnya para penerbit mulai mewadahi juga terhadap karya sastra “serius” dan hal ini sudah dimulai dengan Mizan dan LPPH yang membuka divisi untuk karya sastra “serius”.

4 Comments
anwar
04. Jan, 2009
semoga,di kepemimpinan mas irfan FLP lebih maju amin
indar
29. Jul, 2009
selamat & sukses untuk M. Irfan….
rangga
28. Aug, 2009
semoga mas irfan lebih eksis dalam berkarya
Bersama “Berkarya dengan Cinta” « My Surya
10. May, 2010
[...] Di penghujung kegiatan, Alhamdulillah… kita dipertemukan dengan Mbak Intan Savitri atau dengan nama Mbak Izzatul Jannah dalam banyak karya beliau. Sebelum acara usai terlebih dahulu di tutup dengan rangkaian kalimat-kalimat doa yang tersusun sangat indah, dengan dipimpin oleh beliau, Bp. M. Irfan Hidayatullah. [...]
Leave a reply