Menulis, Mengikat Makna Usai Membaca
Posted on 03. Dec, 2009 by Lia Octavia in FLP Mania
Menulis, Mengikat Makna Usai Membaca
Oleh Billy Antoro (Ketua FLP Jakarta 2007-2009)
Jakarta (Mandikdasmen): Bagi sebagian orang, membaca apalagi menulis merupakan kegiatan yang membosankan, tak banyak manfaat, dan buang-buang waktu. Namun, sebenarnya kedua aktivitas tersebut bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan, penuh manfaat, dan membuat manusia ‘hidup’. “Saat orang masuk dalam aktivitas baca dan tulis, saya ingin orang itu langsung mendapatkan manfaat dari aktivitasnya,” kata Hernowo, penulis buku-buku laris (best-seller).
Hernowo berkata demikian dalam Seminar Motivasi “Aktualisasikan Diri dengan Budaya Baca-Tulis” yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena Cabang Ciputat di Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (2/12). Seminar yang dipadati peserta ini dimoderatori oleh Sholicha, M.Si, dosen Psikologi Pendidikan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam konsep Hernowo, membaca menjadi aktivitas sia-sia jika kegiatan tersebut tidak diakhiri dengan aktivitas menulis. Dan, menulis tak akan berguna jika aktivitas membaca tidak dilakukan secara ‘deep reading’, membaca secara mendalam. “Kunci menulis adalah pada membaca, bukan pada kemampuan teknis menulis,” ujarnya. “Bila bacaannya buruk, maka tulisannya juga buruk.”
Ungkapan demikian untuk menjawab pertanyaan awal Sholicha mengenai aplikasi ‘Mengikat Makna’ dalam penulisan ilmiah seperti skripsi, tesis, disertasi, ataupun jurnal ilmiah. “Apakah bisa metode Mengikat Makna dipakai dalam penulisan ilmiah?” tanyanya.
Hernowo mencontohkan Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi, sebagai penulis yang menerapkan ‘deep reading’ saat membaca buku-buku literatur non-sastra. Deep Reading merupakan kegiatan membaca yang dilakukan secara ‘penuh’, terkonsentrasi, tidak direcoki aktivitas lain seperti mendengarkan musik, makan cemilan, atau dilakukan sembari menonton televisi. Sebab otak manusia beda dengan otak komputer (prosesor) yang mampu bekerja secara multitasking, melakukan sejumlah aplikasi dalam waktu bersamaan.
Pola pikir multitasking yang kini menjangkiti banyak orang, menurut Hernowo, dipengaruhi oleh pola kerja komputer yang disokong aplikasi internet yang mampu mengerjakan beberapa kegiatan dalam satu waktu. “Untuk manusia, fenomena multitasking ini akan membuat otaknya tidak bekerja secara efektif,” ucapnya.
Hernowo juga menyoroti perilaku ‘menyimpang’ para pengguna internet, terutama mereka yang membuat tulisan di situs jejaring sosial Facebook, mailing list, blog, dan situs interaktif. Banyak sekali pengguna yang menyingkat kata atau istilah dalam tulisannya seolah singkatan tersebut telah menjadi konvensi umum.
Masalahnya, akronim tersebut bertabrakan dengan akronim yang telah dipahami umum. Misalnya, ada yang menyingkat kata ‘lebih’ dengan ‘lbh’, padahal akronim ‘lbh’ dipahami umum sebagai ‘Lembaga Bantuan Hukum’. Hal ini, ia tegaskan, banyak dilakukan oleh remaja dan siswa sekolah. Namun hal demikian ternyata juga dilakukan oleh kaum berpendidikan tinggi.
“Orang malas menata pikiran. Komunikasi yang tertulis seperti ini akan membuat Anda tidak berdaya, terkungkung pada sesuatu yang tidak jelas,” kata Hernowo.
Ia membuat catatan atas fenomena ini. Pertama, komunikasi tertulis semakin eksklusif, menyempit, dan tidak terbuka. Kedua, pikiran yang dituliskan adalah pikiran yang instan, spontan (singkat dan pendek), serta terkesan tidak dalam. Ketiga, hasil tulisan seperti tidak sebanding dengan kecanggihan teknologi yang digunakan untuk menuliskannya.
Lewat buku teranyarnya ‘Mengikat Makna Update’ (Mizan, Oktober 2009), Hernowo mengajak pembaca untuk ‘membaca kembali’ aktivitas baca-tulis yang selama ini dilakukan. “Mengikat makna ingin menawarkan sebuah cara menjalankan kegiatan membaca dan menulis yang mendatangkan banyak sekali manfaat dan membuat si pelakunya ‘tergila-gila’ atau ‘keranjingan’ untuk melakukannya berkali-kali,” tuturnya.
Setelah membaca secara deep reading dan mendapatkan ‘ide’ dari tulisan itu, diharapkan kegiatan tersebut dilanjutkan dengan aktivitas menulis. “Kalau ingin tahu kekayaan membaca, tulislah hasil bacaan itu!” imbuh Hernowo. “Menulislah sesuatu yang bisa Anda wariskan pada dunia!”
Peluang bagus penulis dan penerbit
Dalam sambutan sebelum seminar dimulai, Ketua FLP Wilayah Jakarta Raya R.W. Dodo menceritakan kemajuan penerbitan buku di Indonesia ketimbang Malaysia. Buku-buku karya penulis tanah air, katanya, banyak diadopsi oleh penerbit negeri jiran itu. Hal demikian terjadi lantaran tema-tema buku penulis Indonesia inspiratif, variatif, dan beragam. Beda sekali dengan tema buku terbitan Malaysia yang monoton.
Kondisi ini tentu saja membawa berkah tersendiri bagi pemangku kepentingan di dunia literasi tanah air. “Tentu ini menjadi peluang yang bagus bagi penulis dan penerbit,” ujar R.W. Dodo.
Peserta seminar juga disuguhi aksi teatrikal yang dibawakan oleh komunitas Lingkar Sastra Tarbiyah UIN. Diiringi suara musik nan syahdu, mereka membawakan cerita tentang pengabdian dan nasib guru yang tak selalu baik. Namun, dibalik kondisi itu, guru tetap mendedikasikan hidupnya untuk mengabdi, mendidik siswa-siswi dengan riang demi kemajuan negeri.
Seminar Motivasi yang menghadirkan pembicara Hernowo merupakan salah satu acara dari rangkaian kegiatan Pesta Buku Rakyat Akhir Tahun yang digelar oleh penerbit Mizan bekerjasama dengan FLP Ciputat, berlangsung pada 24 November-24 Desember 2009 di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa UIN. Selain seminar, juga diadakan bedah buku, bazaar buku, dan permainan Tebak Jitu Buku berhadiah buku senilai Rp 1 juta.
Billy Antoro
Dimuat di website: www.mandikdasmen.depdiknas.go.id (serba-serbi)

Leave a reply