Kamisan FLP Bandung 18 Feb 2010

Posted on 16. Feb, 2010 by Lia Octavia in FLP Mania

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Kamisan FLP Bandung kembali hadir kamis, 18 Februari 2010 jam 16.00 di Selasar Salman ITB, menghadirkan pembicara Haflah, membahas mengenai Cerpen Thareq yang baru dimuat beberapa waktu lalu. Berikut tulisannya:

Kipas Anin

Putaran baling-baling kipas angin mengingatkanku pada Anin, juga kipasnya. Sebuah cerita yang sudah kusimpan lama. Waktu itu aku terperangkap dalam ruangan dengan ventilasi minim. Tak ada satupun air conditioner di ruangan tersebut. Puluhan orang yang berada dalam ruangan yang tak bisa dibilang luas ini telah membuat kondisi semakin panas. Nafas setiap orang di ruangan ini akan membuatnya lebih panas lagi. Sudahlah mengurangi jumlah persediaan oksigen yang mungkin jumlahnya terbatas di ruangan ini, menambah-nambah jumlah karbondioksida pula. Kemejaku basah. Keringatku menetes. Dari pangkal rambut turun ke pipi. Andai aku bisa melepas jas sempit ini, tentu rasa panas ini akan sedikit terobati. Tapi kulihat semua orang tetap memakai jasnya masing-masing. Jadi sungkan aku melepaskannya. Menyesal juga tadi malam aku tak menyiapkan jas. Paginya aku terlambat. Ternyata jasku masih di laundry. Terpaksalah kupinjam dari teman sebelah kamarku. Sayangnya badannya kurang berisi. Atau badanku saja yang sebenarnya terlalu gemuk? Jadilah aku memakai jas sempit ini. Mana kutahu kalau siang ini akan terasa panas sekali.

Putaran baling-baling kipas angin mengingatkanku pada Anin, juga kipasnya. Sebuah cerita yang sudah kusimpan lama. Ketika itu pikiranku tak mau lagi diajak bekerja sama untuk memahami materi-materi yang disampaikan oleh pembicara. Harusnya pembahasan tentang etika tidak disampaikan di siang hari. Panas, lapar, dan materi yang kurang menarik. Suatu kombinasi yang akan membuat banyak orang mengantuk. Kulihat orang-orang di sekitarku. Ada yang menguap, ada yang memandang layar presentasi dengan lesu, ada yang terpejam sebentar lalu sadar lagi karena kepalanya yang jadi berat hampir terjatuh. Malahan di sudut belakang ruangan sana, aku melihat seseorang sudah tertidur pulas. Untung saja dia tidak mendengkur. Pembicara pun tampaknya memaklumi situasi ini. Orang yang berpengalaman menjadi pembicara dan mengetahui fisiologi tubuh manusia tentunya wajar dengan kondisi seperti ini. Dia tidak marah atau memberi teguran keras pada orang-orang yang mengantuk di ruangan tersebut.

Putaran baling-baling kipas angin mengingatkanku pada Anin, juga kipasnya. Sebuah cerita yang sudah kusimpan lama. Pikiranku mulai memberontak ingin keluar dari tempurung kepala. Tak lama kemudian ia berhasil keluar, entah dari mana. Ia pun melayang-layang sebantar kemudian terbang jauh meninggalkan ruangan panas dan sempit ini. Ia terbang ke sebuah kafe yang dingin. Dengan air conditioner tepat di atas kepala. Lalu ia memesan segelas besar iced capuccino yang sangat dingin. Iced capuccino itu datang dalam gelas besar yang berembun. Dengan dua sedotan yang siap kuhirup. Tetapi pikiranku secepat itu pula kembali ke kepalaku. Sebelum aku merasakan iced capuccino itu sampai di lidahku. Isi pikiranku yang dominan waktu itu ialah sampai di rumah aku ingin mandi. Masuk ke kamar, mengunci pintu, menyalakan kipas angin hingga kekuatan maksimal, dan tidur nyenyak di depan kipas angin yang berputar kencang hanya menggunakan celana pendek Fuh… pasti sejuk dan nyaman sekali.

Putaran baling-baling kipas angin mengingatkanku pada Anin, juga kipasnya. Sebuah cerita yang sudah kusimpan lama. Di saat suasana benar-benar tak nyaman, seorang wanita yang duduk di sebelahku meminjamkan kipasnya. Mungkin ia kasihan juga melihat keringatku yang bercucuran. Wanita inilah yang dari tadi aku ceritakan. Namanya Anin. Aku tau namanya setelah mengucapkan terima kasih lalu memperkenalkan namaku. Anin baik sekali. Mau meminjamkan kipasnya kepadaku, padahal mungkin dia juga kepanasan. Dalam hati aku berdoa semoga Allah membalas kebaikannya dengan sesuatu yang lebih baik. Tanpa berpikir panjang, kuambil kipas itu dari tangan Anin.

Putaran baling-baling kipas angin mengingatkanku pada Anin, juga kipasnya. Sebuah cerita yang sudah kusimpan lama. Kipas yang dipinjamkan Anin itu kipas tangan dengan model lama. Yang dapat dilipat dan dibuka. Terbuat dari kayu. Aromanya khas. Semula aku ragu. Kipas itu tidak cocok dengan profilku. Itu kipas untuk wanita, tampak ringkih. Aku tidak yakin apakah kipas ini mampu mengibaskan angin segar dengan kuantitas yang cukup untuk menyejukkan badanku. Ataukah aku harus mengibaskannya kuat-kuat barulah sejuk datang, itupun kalau kipas itu tidak jadi rusak. Kalau begitu halnya, sia-sia saja. Energi yang kupakai untuk mengibaskan kipas akan berkonsekuensi pada peningkatan suhu tubuhku. Tapi aku tak punya pilihan lain kecuali memanfaatkan kipas pinjaman itu.

Putaran baling-baling kipas angin mengingatkanku pada Anin, juga kipasnya. Sebuah cerita yang sudah kusimpan lama. Kukibaskan kipas itu agak kencang. Kibasan pertama membuatku sejuk. Kibasan kedua membuatku tentram. Kibasan ketiga dan seterusnya aku sudah lupa bahwa aku sedang berada di ruangan yang panasnya bukan main. Kipas ini istimewa. Angin sepoi-sepoi yang dihembuskan kipas tersebut seolah masuk ke dalam pori-pori kulitku dan mengusir semua panas yang terperangkap di bawah kulit. Udara segar masuk ke dalam saluran nafasku. Menukarkan molekul-molekul oksigen ke dalam aliran darahku. Molekul-molekul oksigen tersebut lalu terseret oleh aliran darah ke otak, membuat otakku kembali segar. Aku tak menyangka sebelumnya kalau ternyata kipas itu luar biasa. Aku sering tak percaya apabila ada yang bercerita tentang hal-hal ajaib. Tetapi sepertinya kipas ini beda. Bagaikan ada bidadari-bidadari kecil yang duduk di ujung kipas tersebut sambil meniup-niup leherku. Angin yang dihembuskan bidadari-bidadari kecil di ujung kipas itu sejuk menentramkan, tak ada saingannya.

Putaran baling-baling kipas angin mengingatkanku pada Anin, juga kipasnya. Sebuah cerita yang sudah kusimpan lama. Akhirnya seminar panjang itu pun selesai. Saatnya kami pulang. Kukembalikan kipas tersebut kepada Anin. Sebenarnya tak rela juga aku mengembalikannya. Kuserahkan kipas itu kepada Anin diiringi ucapan terima kasih yang tidak berasal dari hati. Pandangan mataku tak lepas dari kipas itu hingga Anin memasukkan kipas itu ke dalam tas tangannya. Aku ingin memiliki kipas itu. Kipas itu, bukan kipas seperti itu. Kipas itu seperti sebagian jiwaku yang terpisah. Namun aku terlalu malu untuk memintanya. Mencurinya? Jelas saja tidak. Aku tidak mau menjatuhkan harga diriku dengan mencuri. Aku tak mau berjalan ke mana-mana dengan punggung yang seolah bertuliskan ‘aku seorang kleptomania’. Di dunia saja dihina, bagaimana di akhirat nanti?

Putaran baling-baling kipas angin mengingatkanku pada Anin, juga kipasnya. Sebuah cerita yang sudah kusimpan lama. Pulang dari seminar, badanku terasa aneh. Aku merasakan panas yang tak biasa. Semuanya terjadi tiba-tiba. Bergelas-gelas air dingin telah kutenggak habis. Baju telah kulepaskan. Aku mandi sampai dua kali. Tetapi tetap saja aku merasakan rasa panas itu Hatiku tidak tenang. Gelisah. Badanku berkeringat banyak, tidurpun jadi tak nyenyak. Perasaan aneh itu masih terasa keesokan harinya, dan di hari berikutnya juga. Lama-lama rasa panas ini memperburuk keadaanku. Emosiku ikut-ikutan panas. Mudah sekali terpancing hingga marah. Aku yakin perubahan suhu dalam tubuhku ini pastri karena kehilangan hembusan kipas Anin yang begitu istimewa. Pertanyaan-pertanyaan aneh muncul dalam benakku. Di manakah Anin membeli kipas itu? Berapa harganya? Siapa yang membuatnya? Dari kayu apa kipas itu dibuat?

Putaran baling-baling kipas angin mengingatkanku pada Anin, juga kipasnya. Sebuah cerita yang sudah kusimpan lama. Aku tahu aku tak akan bisa mendapatkan kipas itu, kecuali memintanya kepada Anin. Tapi aku tak mempunyai informasi lain tentang Anin kecuali namanya, wajahnya, dan kipasnya. Cari lewat internet? Sudah kucoba. Anin bukan tipe orang yang senang menggunakan jejaring sosial sepertinya. Lagipula, ada berapa banyak orang yang bernama Anin di dunia ini? Tak mungkin hanya satu kan? Aku menyerah. Hanya kekuasaan Allah yang dapat kembali mempertemukan aku dengan Anin.

Putaran baling-baling kipas angin mengingatkanku pada Anin, juga kipasnya. Sebuah cerita yang sudah kusimpan lama. Keinginanku yang sangat kuat untuk kembali merasakan kesejukan akhirnya memaksaku untuk membeli sebuah kipas angin yang tangguh. Dengan baling-baling yang lebar. Baling-balingnya terbuat dari besi. Yang kecepatan perputaran mesinnya melebihi kipas angin lainnya. Aku tak peduli berapa harganya. Mahal pun tak mengapa. Aku ingin kesejukan kembali memelukku, seperti dulu. Aku berhasil mendapatkan kipas angin tangguh ini, kipas angin yang dari tadi kuceritakan. Kipas angin besar yang baling-balingnya terbuat dari besi. Kipas angin inilah yang dapat menyejukkan badanku, walaupun tentu tak dapat menyejukkan jiwaku sepenuhnya seperti kipas Anin.

Putaran baling-baling kipas angin mengingatkanku pada Anin, juga kipasnya. Sebuah cerita yang sudah kusimpan lama. Aku tidak tahu bagaimana nasib kipas Anin sekarang. Sudah hampir tiga tahun aku tak pernah bertemu lagi dengan Anin. Bisa saja kipas itu sudah dibuang ke tempat sampah karena rusak. Atau mungkin kipas itu dimainkan oleh anak-anak di rumah Anin, kemudian hilang karena mereka lupa di mana meletakkannya terakhir kali. Aku ingin berjumpa dengan Anin secepatnya. Aku ingin meminjam kipasnya, itupun kalau masih ada, walau hanya sebentar saja. Aku rindu.

Special thanks for Rizka Aninda

Thareq Barasabha

Mahasiswa Program Profesi Pendidikan Dokter

Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Tags:

Leave a reply