Mengenali Detil – Klub Novel FLP Bekasi (Pertemuan 2) oleh Sakti Wibowo

Posted on 16. Feb, 2010 by Lia Octavia in FLP Mania

MENGENALI DETIL
Klub Novel Bekasi – Pertemuan 2

Seorang penulis ibarat guide bagi pembacanya. Seorang guide dituntut untuk mengenali objek lebih detil. Dengan pengenalan tersebut, di samping guide mampu memberi penjelasan yang riil tentang objek, dia juga mampu membangun dramatik dari setiap detil objek tersebut. Inilah mengapa saya menekankan untuk memulai menulis novel dari sinopsis yang detil.

Di waktu-waktu sebelumnya, saya menulis novel dengan modal ide menarik, kemudian langsung memulainya dari huruf pertama. Entah berapa kali saya mengalami kebingungan, mentok, dan tidak tahu cerita akan saya bawa ke mana. Kata orang, mengalir saja… ikuti ke mana alirannya. Tapi yang terjadi kemudian, alur cerita menjadi tidak tersusun dengan baik dan rapi.

Saya penggemar novel Dan Brown. Sebagai pembaca, saya merasa betapa menakjubkannya cara Dan Brown menyusun alur. Satu bagian dengan bagian yang lain seperti pecahan puzzle yang sudah berurutan sebelumnya, baru kemudian dipecah-pecah. Saya menemukan sambungan dari tiap-tiap puzzle itu dan merasakan tidak adanya keping puzzle yang tersia-sia. Saya rasa, tak mungkin Dan Brown menulis novelnya dengan membiarkan alur mengalir ke mana, seperti air. Dan Brown sudah menyiapkan kanal-kanalnya, saluran-saluran penyangganya, hingga akhirnya akan bermuara di mana. Baru setelah itu, kran dibuka dan air mengalir dengan dramatis, menakjubkan.

Menulis novel dari huruf pertama tanpa sebelumnya mengenali dengan detil cerita akan dibawa ke mana, sama halnya dengan kita memandu wisatawan memasuki hutan perawan. Sama-sama tidak mengenali cerita, sama-sama terjebak dalam alur asing, tak jarang terpaksa harus sama-sama berputar-putar nggak jelas akan kemana.
Sama halnya dengan membuka keran air tetapi kita lupa menyiapkan kanal-kanal salurannya. Kemudian kita terperanjat menyadari air mengalir tak terkendali, luber ke mana-mana.

Pertemuan kedua Klub Novel FLP Bekasi berlangsung hari Ahad kemarin di Saung Matahari, Bekasi. Sayang, saya tidak bisa hadir karena insiden pas pindah kontrakan. Saya berangkat dengan motor bersama beberapa teman yang lain, sedang mobil pengangkut barang berangkat duluan dipandu seorang teman yang lain. Ternyata, sopir dan teman tsb tidak hafal peta jalan di Jakarta, salah mengambil jalur, terjebak kemacetan akut, sehingga target selesai jam 14.00 molor menjadi jam 20.00. Terbebani charge tambahan, dan bonus tangan keseleo yang belum sembuh sampai sekarang. Mohon maaf, Teman-teman semua.

Walhasil, diskusi dilanjutkan via online, yang itu pun ternyata menyimpan banyak kendala. Touchpad yang ngadat, keyboard yang kehilangan huruf i dan o, serta jaringan putus nyambung. Belum lagi tidak adanya moderator menyebabkan window chat meloncat-loncat dari satu ke yang lainnya sehingga proses diskusi tersendat-sendat.

Alhamdulillah… diskusi masih berlanjut sepanjang minggu ini, memanfaatkan email berantai jaringan facebook. Diskusi yang di awal minggu terlihat garing, sunyi senyap dan tampak tanpa minat, mendadak grade-nya naik menjelang pertemuan ketiga. Senang rasanya menyaksikan teman-teman saling mengomentari sinopsis satu sama lain. Saya berharap dengan diskusi tersebut muncul ide-ide yang segar, nonjok, dan orisinil!

Diskusi-diskusi tersebut masih akan panjang, karena saya melihat mayoritas teman-teman FLP Bekasi ‘belum’ mengenali dengan detil tema-tema yang akan mereka angkat menjadi novel. Karena itu, saya memulai dengan target ‘menyelesaikan’ sinopsis.

Teman-teman…
Sinopsis baru saya sebut selesai kalau sinopsis tersebut mampu menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
- will, seperti yang kita bahas sebelumnya.
- alur global.
- ending.
- time line.
Setelah melewati fase tersebut, baru kita akan menginjak fase berikutnya: desain karakter!

Nah… masih panjang kan jalan yang harus ditempuh? Jadi jangan menyerah ya? Kritik-mengkritik itu biasa. Bantai-membantai juga biasa. Dari ‘mengkritik’ sinopsis teman yang lain, kita bisa belajar menemukan kelemahan pada sinopsis kita sendiri. Dari ‘dikritik’ kita bisa mempelajari minat pembaca. Lega-legawa… berbesar hati menerima masukan dan kritikan. Insya Allah yang kita dapatkan adalah kebaikan… kebaikan… dan kebaikan.

Tetap semangat! Yang minggu besok belum mengumpulkan sinopsis revisian, bakal kena hukuman. Hehehe. Peacee…!

Ciputat, 6 Februari 2010

Tags:

Leave a reply