Rumah Cahaya Mencerdaskan Masyarakat Depok Dengan Perpustakaan Mandiri Ditulis tanggal : 15 - 08 - 2011 | 15:18:39 
Berdasarkan hasil temuan United Nations Development Programme (UNDP) tentang minat baca masyarakat negara-negara di dunia, Indonesia menempati peringkat ke 96, sejajar dengan Bahrain, Malta dan Suriname. Untuk Asia Tenggara, hanya ada dua negara dengan peringkat di bawah Indonesia, yakni Kamboja dan Laos, masing-masing berada di urutan angka seratus. Apapun alasannya, kondisi tersebut sangat memprihatinkan bagi sebuah bangsa yang mengklaim sebagai bangsa yang besar dan beradab.
Melihat kondisi tersebut, Forum Lingkar Pena (FLP), yang merupakan sebuah organisasi kepenulisan dan pengkaderan penulis, mencoba melakukan upaya konkret untuk menumbuhkan minat baca masyarakat dengan mendirikan sebuah Rumah Baca yang bernama RUMAH CAHAYA, yang merupakan akronim dari Rumah Baca dan Hasilkan Karya. Tujuan pendirian Rumah Baca ini tidak lain adalah dalam rangka ikut menyukseskan program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Salah satu Rumah Baca tersebut adalah yang berlokasi di Jalan Keadilan Raya, kawasan Depok Timur, Jawa Barat. FLP melihat, minat baca masyarakat Depok masih rendah, terutama pada anak-anak. Dengan didirikannya Rumah Baca tersebut, FLP berniat untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat Depok dan sekitarnya melalui membaca. Masyarakat bisa datang untuk membaca dan meminjam buku secara gratis.
Koleksi buku yang dimiliki oleh Rumah Cahaya berasal dari sumbangan anggota FLP sendiri, dari penerbit, instansi atau lembaga tertentu dan sumbangan masyarakat luas, baik buku baru maupun buku lama. Dalam internal FLP sendiri, ada semacam kewajiban bagi para anggotanya yang baru saja menerbitkan bukunya, paling tidak menyumbangkan satu buah buku untuk Rumah Cahaya. Koleksi buku-bukunya antara lain, buku anak, buku agama, buku fiksi, ilmu pengetahuan, majalah dan lain-lain.
Rumah cahaya melayani seluruh masyarakat luas. Siapapun bisa meminjam buku di sini secara gratis asal telah mendaftar menjadi anggota. Yang belum menjadi anggota pun bisa memanfaatkan buku-buku yang ada dengan membacanya di tempat. Setiap hari, Rumah Cahaya selalu ramai dikunjungi, mulai dari anak-anak, remaja, para ibu rumah tangga, mahasiswa dan masyarakat sekitar. Dan pengunjung yang terbanyak adalah anak-anak. Buku-buku yang disediakan memiliki segmen khusus bagi anak-anak. Mereka bebas membaca sekaligus bisa bermain di sini. Tempat-tempat baca seperti inilah sebenarnya sangat potensial dalam memberikan kontribusi secara informal dalam menumbuhkan minat baca anak dan memajukan pendidikan pada umumnya. Hanya saja, tempat-tempat semacam ini masih kalah sosialisasinya ketimbang pusat-pusat perbelanjaan atau tempat-tempat rekreasi. Hanya anak-anak yang sudah gemar membaca yang sering datang berkunjung.
Proses Panjang Pemberdayaan Masyarakat
Hingga saat ini, buku masih menjadi sumber utama bagi kebanyakan masyarakat. Buku juga menjadi alternatif media yang cukup ramah dan aman, terutama bagi anak-anak. Buku memiliki banyak ragamnya, sehingga kita bebas memilih jenis buku apa yang akan kita baca. Ditambah lagi, dunia perbukuan di Indonesia akhir-akhir ini berkembang pesat. Jumlah buku yang diterbitkan semakin bertambah. Sekalipun demikian, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang hampir 250 juta orang, jumlah buku yang beredar belum bisa memenuhi kebutuhan yang ada. Yang lebih memprihatinkan adalah meningkatnya jumlah buku tersebut tidak diimbangi pula oleh meningkatnya minat baca masyarakat itu sendiri.
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah dimulai dari lingkungan keluarga. Salah satunya adalah pembiasaan oleh orang tua. Kurangnya minat baca orang tua akan berpengaruh pada kurangnya minat baca anak. Oleh karena itu, pembiasaan membaca seyogyanya dimulai dari lingkungan pertama anak, yaitu rumah. Jika di rumah terdapat sebuah perpustakaan, meskipun kecil, hal ini bisa mendorong anak untuk gemar membaca. Atau dengan cara lain, seperti berlangganan majalah anak. Permasalahannya adalah banyak dari para orang tua yang tidak memiliki kesadaran akan hal tersebut.
Selanjutnya, sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi yang merupakan ujung tombak dalam bidang pendidikan belum bisa menjalankan fungsi dan perannya dalam menumbuhkan minat baca siswanya dengan baik. Kondisi perpustakaan masih belum memenuhi standar. Perpustakaan belum sepenuhnya berfungsi disana. Jumlah buku-buku perpustakaan jauh dari mencukupi kebutuhan tuntutan membaca sebagai basis pendidikan serta peralatan dan tenaga yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Padahal, perpustakaan sekolah atau kampus merupakan sumber membaca dan belajar yang sangat vital bagi murid dan mahasiswa.
Terbukti, perpustakaan sekolah maupun kampus sering sepi pengunjung. Hal ini bisa disebabkan oleh masih terbatasnya koleksi buku yang ada, manajemen pengelolaannya yang belum profesional, bukunya sudah kuno dan usang atau memang image bahwa perpustakaan adalah tempat yang kurang menarik untuk dikunjungi.
Jika kita cermati, di setiap kabupaten/kota biasanya telah memiliki perpustakaan daerah. Ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa lewat membaca. Tapi pada kenyataannya, perpustakaan daerah ini juga lagi-lagi masih sepi pengunjung. Penyebabnya bisa jadi sebagian masyarakat memang belum tahu keberadaan perpustakaan tersebut. Atau masih ada yang menganggap bahwa pergi ke perpustakaan hanyalah untuk orang-orang tertentu saja. Pada masyarakat golongan bawah, mungkin saja merasa malu atau minder untuk pergi ke perpustakaan.
Menanggapi berbagai hal di atas, FLP berusaha menawarkan sebuah Rumah Baca yang dikemas secara menarik dan terkesan lebih merakyat. Rumah Cahaya ingin membangun citra di tengah masyarakat bahwa Rumah Cahaya adalah dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Rumah Cahaya terbuka bagi siapa saja, masyarakat tidak perlu sungkan untuk datang. Baik proses pendaftaran menjadi anggota maupun peminjaman buku juga tidaklah sulit, apalagi berbelit-belit. Lebih dari itu semua, kesan keakraban dan kekeluargaan sengaja ditonjolkan. Silaturrahmi dijadikan modal untuk bisa lebih dekat kepada masyarakat. Dengan begitu, mereka akan merasa senang untuk datang ke Rumah Cahaya. Jika mereka merasa senang, tentu mereka akan betah pula berlama-lama berada di Rumah Cahaya untuk membaca buku. Maka, upaya untuk menumbuhkan minat baca masyarakat paling tidak sudah berhasil dilakukan. Setelah minat baca meningkat, diharapkan akan lahir “masyarakat membaca” (reading society).
Program-program Rumah Cahaya
Boleh dikatakan, Rumah Cahaya adalah merupakan badan otonom dalam tubuh FLP yang lebih bersifat eksternal. Artinya, Rumah Cahaya melakukan berbagai kegiatan sosial yang memiliki komitmen kuat untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat. Adapun kegiatan-kegiatan Rumah Cahaya antara lain:
Sudah sejak lama, FLP memberikan pelatihan menulis kepada masyarakat luas dalam rangka ikut menumbuhkan minat baca masyarakat. Dalam pelatihan tersebut, para trainer dengan tak henti-hentinya mengobarkan semangat para peserta agar gemar membaca, karena syarat utama untuk menjadi penulis yang baik adalah menjadi pembaca yang baik. Selama ini, dalam dunia perbukuan di tanah air, masyarakat cenderung menjadi konsumen saja. Padahal, untuk mendorong minat baca, harus juga didorong melalui keterampilan menulis. Asumsinya, untuk menulis sebuah buku, setidaknya seorang penulis membutuhkan lima buku pembanding, referensi atau bahan bacaan.
Rumah Cahaya sendiri ingin agar keterampilan menulis ini dikenalkan sejak dini. Maka diadakanlah kegiatan FLP for Kids yang merupakan kegiatan andalan bagi Rumah Cahaya. Jika sejak usia dini anak-anak telah dikenalkan dengan keterampilan menulis, ini akan mendorong mereka membiasakan diri untuk gemar membaca. Tujuan utama dari FLP for Kids ini adalah merupakan bagian dari pendidikan terhadap generasi bangsa selanjutnya, agar di masa mendatang mereka tumbuh menjadi generasi yang berwawasan luas, mempunyai visi jauh ke depan, serta memiliki akhlak dan budi pekerti yang luhur.
Lebih dari itu, Rumah Cahaya menginginkan agar membaca dan menulis menjadi sebuah gaya hidup bagi seluruh lapisan masyarakat. Membaca menjadi kebutuhan hidup dan budaya bangsa. Antara buku dan masyarakat tidak ada lagi jarak. Dengan begitu, masyarakat tidak lagi menyikapi buku dengan kaku, kening berkerut, tidak bersahabat dan lain-lain, karena setiap profesi, usia, maupun latar belakang tertentu memiliki bukunya masing-masing. Buku tidak lagi dipandang secara elitis yang ditulis, diterbitkan atau dibaca oleh kalangan tertentu saja. Buku menjadi milik semua orang.
Pelatihan menulis untuk anak ini dikemas sedemikian rupa agar anak mudah menangkap materi pelatihan sekaligus merasa senang. Oleh karena itu, di sela-sela pelatihan, tak jarang para trainer menyelinginya dengan berbagai permainan maupun atraksi tertentu.
Dongeng sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia sejak dahulu kala. Masing-masing daerah memiliki ragam dongengnya sendiri. Dongeng sepertinya tak pernah lekang oleh zaman. Ia akan terus ada, walau dengan tutur dan versinya yang berbeda. Pelatihan dongeng sendiri dimaksudkan untuk membangun dan mempertajam imajinasi anak. Mereka dirangsang segenap imajinasinya agar otak anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Dongeng juga dapat membantu anak dalam menyerap dan mencerna sesuatu yang telah dilihat dan dibacanya. Pada pelatihan ini, terlebih dahulu anak-anak akan mendapatkan beberapa dongeng dari para trainer. Selanjutnya, mereka diminta satu per satu untuk menceritakannya kembali dengan singkat. Setelah itu, mereka juga dilatih untuk bercerita kepada teman-temannya tentang apa saja yang pernah dialaminya, baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Minat anak-anak untuk mengikuti pelatihan ini cukup tinggi.
Kita sudah tahu bersama bahwa akhir-akhir ini moralitas dan akhlak bangsa kian luntur. Terlebih yang terjadi pada generasi muda dan anak-anak. Kejahatan dan kekerasan hampir setiap hari terdengar. Pemerkosaan dan pelecehan seksual terjadi di mana-mana. Penyalahgunaan narkoba dan obat-obatan terlarang menimpa generasi muda kita. Menanggapi kondisi tersebut, Rumah Cahaya dan FLP berupaya melakukan kegiatan untuk membina dan mengarahkan generasi muda agar memiliki moral dan akhlak yang mulia. Salah satunya adalah buka puasa bersama. Dalam acara ini diisi dengan ceramah kegamaan yang sifatnya mudah diterima oleh anak-anak. Biasanya, si penceramah akan memaparkan nilai-nilai ajaran agama dalam bentuk cerita dan dalam bahasa yang mudah dimengerti dan ditangkap oleh anak. Selain anak-anak didorong untuk gemar membaca ilmu pengetahuan umum, mereka juga didorong untuk gemar membaca Al Qur'an dan mendalaminya untuk kemudian mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Itulah sekelumit tentang kegiatan dan program Rumah Cahaya dalam rangka menumbuhkan minat baca masyarakat, memberi pencerahan dan ikut berperan aktif dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa. Memang selama ini Rumah Cahaya masih berfokus pada anak-anak. Dan sebagai organisasi nirlaba, Rumah Cahaya lebih membidik kepada masyarakat golongan bawah dan kurang mampu, termasuk di dalamnya para yatim-piatu.
Program-program tersebut di atas juga lahir dari bentuk keprihatian atas kondisi anak-anak Indonesia pada saat ini. Kebanyakan dari anak-anak kita menghabiskan sebagian besar waktunya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, bahkan cenderung negatif. Lihat saja, berapa banyak waktu yang dihabiskan anak untuk menonton televisi atau bermain play station, bermain internet, nongkrong di tempat tertentu dan sebagainya. Rumah Cahaya mencoba memberikan alternatif kegiatan yang positif dan bermanfaat.
Selain beberapa kegiatan sebagaimana yang telah disebutkan di atas, Rumah Cahaya bekerjasama dengan FLP juga melakukan kegiatan lain dalam rangka pemberdayaan masyarakat untuk segmentasi yang lebih luas lagi. salah satu di antaranya adalah FLP Goes to School, yaitu kampanye gemar membaca ke sekolah-sekolah maupun pesantren sekaligus memberikan pelatihan kepenulisan di sana.
Pendidikan adalah Tanggung Jawab Bersama
Kita tidak bisa membebankan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada pemerintah semata. Setiap elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Tidak hanya guru, dosen, ustadz atau Kementrian Pendidikan saja yang harus berperan, setiap individu seharusnya ikut andil di dalamnya. Setiap diri kita adalah pendidik, setidaknya pendidik untuk diri sendiri. Dan pendidikan yang utama dan mendasar adalah dimulai dari keluarga. Keluarga memiliki peranan yang sangat besar dan sentral dalam proses pembelajaran dan pendidikan.
Mengingat pentingnya setiap elemen masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat dalam bidang pendidikan, maka FLP mendirikan Rumah Cahaya, sebuah perpustakaan yang dikelola secara mandiri. Untuk mendirikan sebuah perpustakaan mandiri, tentu membutuhkan pengorbanan yang tidak kecil. Kami dituntut untuk menyisihkan sebagian buku-buku yang kami miliki untuk disumbangkan. Diperlukan sukarelawan untuk melayani dan memberikan pelatihan dan penyuluhan. Bahkan, kami pun harus rela mengeluarkan sebagian rizki kami untuk mendanai berbagai kegiatan yang ada. Semua itu dilakukan semata-mata ikut andil membantu pemerintah dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu, memang sudah sejak awal tertanam dalam kesadaran dan keyakinan kami bahwa tugas berdakwah (baca: mencerdaskan bangsa) adalah kewajiban setiap individu. Yang ada dalam pikiran kami adalah apa yang bisa kami berikan kepada masyarakat luas, bangsa dan negara ini. Bahkan, semakin banyak kita memberi, membagi ilmu kepada orang lain, pengetahuan dan keterampilan kita pun akan bertambah. Dan yang lebih penting lagi, bahwa hidup itu sendiri adalah proses belajar yang panjang. Setiap diri dituntut untuk terus dan terus belajar.
Tentunya, segala daya dan upaya yang kami lakukan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Banyak kendala dan rintangan yang kami hadapi. Sebagai organisasi nirlaba, kendala terbesar adalah soal minimnya dana. Selama ini kami mendapatkan dana dari iuran anggota yang sifatnya sukarela, bantuan dari para donatur yang tidak mengikat, juga dari lembaga atau instansi tertentu. Itupun jumlahnya belum seberapa, sehingga sering juga beberapa program tidak bisa berjalan dengan baik karena terkendala dana. Bahkan, tak jarang kami harus tombok.
Kendala berikutnya adalah kurangnya sumber daya manusia yang ada. Sebagai organisasi yang lebih cenderung bersifat komunitas, kami tidak bisa memaksa seseorang. Masing-masing memiliki aktivitas dan kesibukannya sendiri. Di saat-saat tertentu, mereka timbul-tenggelam. Walau anggota FLP sudah mencapai ribuan, tapi masih sangat sedikit yang benar-benar aktif dan terlibat langsung dalam setiap kegiatan organisasi. Satu-satunya jalan, kami berusaha memaksimalkan SDM yang ada. Sedangkan di Rumah Cahaya sendiri, kami baru memiliki satu orang penjaga perpustakaan. Hal ini membuat pelayanan kepada masyarakat belum bisa maksimal. Dan jika si penjaga ini sedang ada keperluan, perpustakaan akan tutup sementara waktu, sehingga pelayanan kepada masyarakat akan terganggu.
Kendala ketiga adalah terbatasnya prasarana dan sarana yang kami miliki. Koleksi buku yang belum sesuai harapan, meja kecil untuk membaca yang masih sedikit, ruangan yang belum ber-AC, komputer untuk administrasi yang sudah usang dan tidak layak pakai, instrumen untuk permainan atau game yang belum ada, sound system juga belum ada dan lain-lain.
Membutuhkan Keterlibatan Banyak Pihak
Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa tidaklah bisa dilakukan secara sendiri. Agar tujuan itu bisa tercapai dengan baik, perlu adanya kerjasama di antara berbagai pihak. Adapun pihak-pihak yang mungkin bisa terlibat di sini antara lain:
Para guru atau dosen adalah orang-orang yang setiap harinya terlibat langsung dalam dunia pendidikan. Mereka memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam mengajar dan mendidik generasi bangsa. Diharapkan pula mereka berada di garda terdepan dalam menumbuhkan minat baca anak didik khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.
Para penulis perlu didorong untuk terus berkarya. Misalnya, dengan memberikan penghargaan yang layak atas karya intelektual mereka. Atau melakukan pemberitaan tentang para penulis yang telah mencapai kesuksesan. Yang terjadi di negeri kita adalah pemberitaan yang luar biasa dan berlebihan terhadap para artis yang perannya terhadap kepentingan publik amatlah kecil, bahkan tidak ada.
Penerbit bisa berkontribusi dengan menerbitkan buku-buku yang bermutu dalam jumlah yang banyak. Kita menyambut gembira dengan semakin meningkatnya jumlah buku yang terbit tiap tahunnya. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah tidak hanya minat baca yang perlu dinaikkan, tapi kemampuan daya beli masyarakat pun harus pula ditingkatkan. Toh pada kenyataannya, tidak sedikit masyarakat yang telah memiliki minat baca yang sangat tinggi, namun daya belinya masih sangat rendah. Ini merupakan masalah tersendiri yang harus ditangani secara serius pula. Diharapkan pula penerbit tidak semata-mata mencari keuntungan dengan menerbitkan buku yang hanya laku di pasaran, buku yang sedang tren/booming, buku instan untuk kepentingan orang atau kelompok tertentu dan sebagainya, tapi juga menerbitkan buku yang mendidik dan bermanfaat. Buku-buku bermutu yang menyangkut isi, bahasa, pengarang, tata letak, atau penyajiannya yang sesuai dengan tingkat pendidikan dan kecerdasan seseorang akan dapat merangsang minat baca.
Toko buku bisa melakukan pemerataan toko buku hingga ke kota-kota kecil. Toko buku yang ada masih terkosentrasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Medan, Makassar dan lain-lain. Perlu diperhatikan pula pola distribusi buku yang masih belum merata. Selama ini, lebih dari 40% buku diserap oleh pembaca yang berada di wilayah Jabodetabek. PR juga buat toko buku, bagaimana membuat toko buku menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi, seperti layaknya orang mengunjungi mall atau tempat rekreasi. Demikian pula kalau buku-buku dalam semua jenisnya tersebar luas secara merata ke berbagai lapisan masyarakat, mudah didapat serta harganya terjangkau oleh semua tingkatan sosial ekonomi masyarakat, kegiatan membaca akan tumbuh dengan sendirinya. Pada akhirnya, akan tercipta sebuah kondisi masyarakat konsumen membaca yang akan mengonsumsi buku-buku setiap hari sebagai kebutuhan pokok dalam hidup keseharian.
Untuk IKAPI, selain mengadakan pameran buku secara rutin juga telah melakukan gebrakan yang cukup fenomenal, yaitu mencanangkan 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional. Dengan dicanangkannya Hari Buku Nasional, IKAPI akan terus berupaya menjadikan buku sebagai bagian dari gaya hidup. IKAPI juga mendorong kalangan perbukuan di tanah air, baik penulis, penerbit, editor, ilustrator, desainer, distributor, toko buku dan lain-lain untuk memberi penyadaran (awareness) pada masyarakat Indonesia tentang pentingnya buku.
Pemerintah diharapkan memberikan perhatian dan dukungan terhadap berbagai perpustakaan mandiri dan rumah baca yang ada di Indonesia, karena tanpa perhatian dan dukungan dari pemerintah akan sulit untuk maju dan berkembang. Dukungan itu dapat berupa bantuan dana, prasarana dan sarana, kemudahan proses pendirian, pelatihan bagi para pustakawan dan sebagainya. Yang kita lihat selama ini, kegiatan-kegiatan pemerintah hanya berputar-putar dalam seminar-seminar, mendirikan kelompok-kelompok baca secara terbatas pada suatu tempat, belum dapat mengangkat dan menyelesaikan persoalannya secara menyeluruh dan bersinambungan.
Penutup
Rumah Cahaya Depok hanyalah salah satu dari sekian banyak rumah baca yang ada di tanah air. Belum lagi munculnya fenomena perpustaan keliling yang dikelola baik oleh perorangan, yayasan atau organisasi tertentu. Kesemuanya memiliki misi yang sama, yaitu ingin menumbuhkan minat baca masyarakat, kampanye gemar membaca dan menulis, dan ikut andil menyukseskan program pemerintah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Rumah baca maupun perpustakaan keliling, walau dengan segala keterbatasannya telah memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi bangsa ini, hanya saja masih belum tersosialisasikan dan dikelola dengan baik. Harapan ke depan, semoga rumah baca maupun perpustakan keliling yang ada di Indonesia mampu menjadi lebih baik dan menjadi mitra pemerintah dalam membangun bangsa ini.
TRIMANTO
(Penulis, aktivis Forum Lingkar Pena dan sukarelawan Rumah Cahaya)
Kontak:
0817-6041817, 02150611982
Tri7_ready@yahoo.co.id |