<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Situs Resmi Forum Lingkar Pena &#187; Kiat Penulisan</title>
	<atom:link href="http://forumlingkarpena.net/category/dunia-penulisan/kiat-penulisan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://forumlingkarpena.net</link>
	<description>Pusat Informasi dan Layanan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 07:57:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sumber Cerita Fiksi</title>
		<link>http://forumlingkarpena.net/2009/02/sumber-cerita-fiksi/</link>
		<comments>http://forumlingkarpena.net/2009/02/sumber-cerita-fiksi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 02:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koko Nata Kusuma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kiat Penulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://forumlingkarpena.net/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Fiksi, dilihat dari kamus berarti fiction :  karangan , rekaan, khayalan. Cerita fiksi adalah cerita yang bersifat rekaan, karangan, khayalan. Sekalipun fiksi tak bisa disamakan dengan karya ilmiah, bukan berarti semua yang bernama fiksi hanya berisi cerita bualan belaka.
Cerita fiksi dapat digali dari baragam sumber :
1.  Pengalaman. 
 Sumber terbaik cerita fiksi adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="FI">Fiksi, dilihat dari kamus berarti </span></strong><em><span lang="FI">fiction</span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="FI"> :  karangan , rekaan, khayalan.</span></strong><span lang="FI"> </span><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">Cerita fiksi adalah cerita yang bersifat rekaan, karangan, khayalan. Sekalipun fiksi tak bisa disamakan dengan karya ilmiah, bukan berarti semua yang bernama fiksi hanya berisi cerita bualan belaka.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">Cerita fiksi dapat digali dari baragam sumber :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">1.  Pengalaman. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV"> Sumber terbaik cerita fiksi adalah pengalaman, pengalaman merupakan kisah yang paling dekat dengan diri penulis hingga ia bertutur sesuatu yang tak jauh dari apa yang telah dialaminya sendiri.  Pengalaman bukan selalu berasal dari kisah diri sendiri tetapi dapat pula pengamatan terhadap kisah hidup orang lain. Jika seseorang beranggapan pengalaman hidupnya tidaklah istimewa bukan berarti ia harus menceritakan secara detil dari a hingga z , pengalaman dapat menjadi sebuah bahan baku yang diolah sedemikian rupa sebagai ide dasar sebuah cerita.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">a.       Nikolai Gogol menulis </span></strong><em><span lang="SV">Overcoat</span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV"> berdasar sebuah pengalaman. Dalam sebuah jamuan pesta makan malam, ia mendengar lelucon tentang orang yang bertahun-tahun menabung untuk daat membeli sebuah senapan. Setelah uang terkumpul untuk membeli senapan, seseorang justru mencuri senapannya sebelum si pemilik sendiri menggunakannya untuk berburu. Tamu yang hadir di jamuan makan tersebut tertawa mendengar lelucon tersebut, tetapi Nikolai Gogol merasa tersentuh dan kasihan terhadap si tokoh hingga ia menuliskan cerita berjudul </span></strong><em><span lang="SV">Overcoat </span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">yang mengisahkan seorang karyawan miskin menabung sekian lama untuk dapat membeli jas penghangat. Saat dapat membeli, seseorang mencuri sementara karyawan tersebut ditertawakan banyak orang karena kebodohannya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">b.      Charles Dickens menulis beberapa cerita berdasarkan pengalaman masa kecilnya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">c.       Willa Cather : Kebanyakan bahan baku penulis diperoleh dari pengalamannya sebelum berusia 15</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">d.      Deborah Joy Corey (</span></strong><em><span lang="SV">Losing Eddie</span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">) menulis buku ketiganya, masih berkisar tentang pengalaman masa kecilnya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">e.       Mark Twain (</span></strong><em><span lang="SV">Huckleberry Finn</span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">) : menulis dengan menggunakan pengalaman masa kecilnya dengan menciptakan orang yang benar-benar berbeda dengan dirinya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">2. Mimpi. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV"> Berapa banyak mimpi yang kita alami hanya berlalu begitu saja? Robin Hemley (</span></strong><em><span lang="SV">The Last Studebaker</span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV"> dan </span></strong><em><span lang="SV">All You Can Eat</span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">) mengatakan salah satu sumber cerita adalah mimpi-mimpinya. Suatu hari ia terbangun dengan satu bayangan seorang lelaki yang menggali kebun milik istrinya. Bekas impian itu ia olah menjadi bahan baku cerita, mengisahkan seorang lelaki yang dihantui rasa bersalah dan cinta akibat bercerai dengan istrinya. Sebagai ungkapan kerinduan, cinta, perasaan berdosa setiap hari ia menanam bunga di kebun miliknya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">Mimpi, kadang hanya menjadi bunga tidur  yang berlalu tanpa makna. Padahal dalam mimpi kadang Allah menitipkan suatu isyarat pada kita. Mimpi tercekik &amp; tenggelam dalam air, orang Jawa berkata itu pertanda si empunya mau sakit. Dalam mimpi saja rasa tercekik &amp; tenggelam demikian sakitnya, begitupula mungkin rasa seseorang menjelang meninggal di saat sakaratul mautnya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">3.  Sejarah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">Banyak sudah cerita fiksi diambil dari latar sejarah yang unik, misterius dan mengesankan. Musashi, Senopati Pamungkas, sedikit di antaranya. Film-film yang bertemakan sejarah, baik produksi dalam negeri maupun luar negeri juga sangat beragam. </span></strong><em><span lang="SV">Tjoet Njak Dhien</span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV">, </span></strong><em><span lang="SV">Tuanku Tambusai</span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="SV"> termasuk pdosuk dalam negeri bertema sejarah yang penggarapannya sangat indah. </span></strong><em><span lang="IN">Red Cliff</span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="IN">, </span></strong><em><span lang="IN">Curse of Golden Flower</span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="IN">, </span></strong><em><span lang="IN">Once Upon a Time in China </span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="IN">yang tayang dalam beberapa seri juga mengambil setting sejarah China.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="IN">Menulis fiksi berlandaskan sejarah memang menyenangkan. Seorang penulis berbekalkan keuletan, kesabaran, â€˜mencuri dari masa laluâ€™ mengembangkannya dalam bentuk imajinasi sembari menggali dari sumber-sumber yang ada.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="IN">Joanna Scott (</span></strong><em><span lang="IN">Concerning Mold Upon the Skin</span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="IN">) menceritakan bahwa ia menulis cerita dengan mengacu pada sejarah obat-obatan sehingga Joanna Scott mencari sejarah tentang tabib di abad ke -15 dan 16 seperti Leeuwenhoek yang penuh rahasia  bahkan buku-buku aneh yang tidak bisa diandalkan semacam </span></strong><em><span lang="IN">Devils, Drugs and Doctors</span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="IN"> karya Howard Haggard.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="IN">Saya pribadi menuliskan </span></strong><em><span lang="IN">The Road to The Empire</span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="IN"> sebetulnya mereupakan sekuel ketiga Takudar berdasar sejarah Mongolia yang sangat minim di dapat sumbernya di pasaran. Bagaimana jika sumber yang kita butuhkan tak terdapat di luar sana? Maxine Hong Kingstone (The Woman Warrior) menulis dengan sukses fiksi autbiografi tentang leluhurnya orang Cina dan Amerika. Karena hanya mengetahui sedikit tentang leluhurnya, ia mengisi kekosongan pengetahuan  dengan khayalan.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="IN">4. Tradisi Lisan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="IN">Kisah-kisah yang kita dengar semasa kecil tidak lantas dibuang begitu saja. Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty menjadi cerita cinta yang terus digemari orang dan diadaptasi dalam bentuk cerita hingga film. Lihatlah film dan sinetron Indonesia yang meceritakan kisah cinta antara gadis miskin dengan pemuda berada, selalu laku. Tanpa mengabaikan kualitas cerita, penulis dapat menjadikan cerita lisan sebagai bahan baku idenya. Josip Novakovich (</span></strong><em><span lang="IN">The Burning Shoe</span></em><strong><span style="font-weight: normal;" lang="IN">) mengisahkan seorang laki-laki yang pandai bertutur mulai kisah Pangeran Marko yang menyusu pada ibunya selama tujuh tahun, rumah masa kanak-kanak, tentara Jerman yang menyerbu hingga kisah kue madu.  Sang penulis menggabungkan berbagai kisah yang ditemuinya dari cerita orang-orang. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><strong><span style="font-weight: normal;" lang="IN">Jangan sepelekan cerita tua sang kakek, dalam perjalanan panjangnya sebagai manusia, kebijaksanaannya tentu berharga. (Sumber: http://sintayudisia.wordpress.com)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">THE ROAD TO THE EMPIRE<br />
Penulis: Sinta Yudisia<br />
Penyunting: Taufan E. Prast<br />
Penata Letak: Lian Kagura<br />
Desain Sampul: Tri<br />
Harga: Rp. 63.000,-</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.friendster.com/photos/89895588/1/829940551"><img class="aligncenter" style="border: 0pt none;" src="http://photos.friendster.com/photos/88/55/89895588/1_829940551l.jpg" border="0" alt="" width="432" height="311" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://forumlingkarpena.net/2009/02/sumber-cerita-fiksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>59</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Delapan Kesalahan Umum dalam Membuat Dialog</title>
		<link>http://forumlingkarpena.net/2008/12/delapan-kesalahan-umum-dalam-membuat-dialog/</link>
		<comments>http://forumlingkarpena.net/2008/12/delapan-kesalahan-umum-dalam-membuat-dialog/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 15:48:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kiat Penulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://forumlingkarpena.net/2008/12/delapan-kesalahan-umum-dalam-membuat-dialog/</guid>
		<description><![CDATA[Dialog dalam sebuah karangan fiksi berfungsi sebagai penggerak cerita selain berguna juga untuk memperkuat karakter tokoh dalam cerita. Selain itu, dialog juga dapat membuat cerita menjadi lebih dinamis. Dialog antar tokoh dalam cerita apabila dikemas bisa pula menjadi &#8220;cara halus&#8221; untuk menyampaikan pesan-pesan moral tanpa terkesan menggurui.
Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang berhubungan dengan penulisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="picleft" alt="Dialog" src="http://forumlingkarpena.net/wp-content/uploads/2008/12/dialog.jpg" border="0" />Dialog dalam sebuah karangan fiksi berfungsi sebagai penggerak cerita selain berguna juga untuk memperkuat karakter tokoh dalam cerita. Selain itu, dialog juga dapat membuat cerita menjadi lebih dinamis. Dialog antar tokoh dalam cerita apabila dikemas bisa pula menjadi &ldquo;cara halus&rdquo; untuk menyampaikan pesan-pesan moral tanpa terkesan menggurui.</p>
<p>Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang berhubungan dengan penulisan dialog:<br />1. Menulis dialog dengan kalimat-kalimat indah dan bersajak. Dialog semacam ini memang cocok bagi karakter tokoh yang memang suka berpantun, namun kurang tepat bila dikenakan pada tokoh yang hidup di lingkungan metropolitan yang berbicara serba ringkas dan cepat. Pelajaran pertama dalam membuat dialog adalah membuatnya tampak nyata seperti layaknya orang yang berbicara dalam konteks nyata. Untuk itu, penting kiranya bagi para penulis untuk aktif mendengarkan percakapan orang-orang serta dialek atau diksi apa yang sering diucapkan oleh orang-orang dengan suatu karakter tertentu. Perlu juga untuk melafalkan dialog Anda dengan suara keras untuk mengecek apakah dialog itu terdengar enak di telinga dan sudah seperti layaknya percakapan yang nyata.</p>
<p>2. Mengulang-ulang maksud dalam beberapa potong kalimat. Meskipun dialog sedapat mungkin dibuat agar nyata, namun dialog yang bertele-tele akan membosankan pembaca. Cukup membuat satu kalimat saja untuk menyampaikan sebuah maksud spesifik. Hal ini tentunya akan berlaku lain apabila Anda dengan sengaja ingin menciptakan kesan tokoh yang peragu atau obsesif kompulsif. Namun demikian, terlalu banyak efek justru akan berbalik menjadi bumerang bagi Anda. Dialog yang terlalu panjang juga akan menghambat pergerakan cerita. Jadi rumusnya, bijaksanalah dalam menuliskan dialog.</p>
<p>3. Tidak memperhatikan siapa yang berbicara apa. Sering kali kita mendapatkan beberapa dialog ditumpukkan tanpa menyebutkan siapa yang berbicara, seperti contohnya di bawah ini:<br /><em>&ldquo;Kamu kemarin pulang jam berapa?&rdquo;<br />&ldquo;Jam satu, kenapa?:<br />&ldquo;Oh, tidak aku hanya penasaran siapa yang membuka pintu kulkas sekitar jam dua belasan&hellip;&rdquo;<br />&ldquo;Kamu yakin mendengar suara itu?&rdquo;<br />&ldquo;Ehm, iya. Tapi sekarang aku jadi agak ragu.&rdquo;<br />&ldquo;Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan hantu yang menjaga rumah ini?&rdquo;</em><br />Ini sah-sah saja apabila kebetulan dialog itu hanya terjadi antara dua orang tokoh. Namun apabila tokoh yang ada lebih dari dua orang maka ceritanya jadi lain. Jika penulis tidak mencantumkan siapa yang berbicara, pembaca mungkin menjadi bingung untuk mengidentifikasi si pembicara. Namun terlalu banyak memberikan nama juga dapat menjemukan. Hal ini bias diakali dengan cara menyelinginya dengan tanda-tanda yang mengarah kepada totkoh tertentu. Seperti misalnya di bawah ini:<br /><em>&ldquo;Kamu pasti lupa membawa buku itu!&rdquo; Tuduh Andi.<br />&ldquo;Buku apa?&rdquo; Tanya balik Rizal sambil memainkan rambutnya yang ikal.<br />&ldquo;Buku harian Bu Nindi, Bodoh!&rdquo; Andi tidak dapat menahan amarahnya.<br />&ldquo;Oh itu&hellip;&rdquo; Jawab si pemilik rambut ikal itu dengan enteng.<br />4. Menggunakan &ldquo;dia&rdquo; secara tidak cermat sehingga membuat pembaca bingung &ldquo;dia&rdquo; tersebut mengacu pada siapa. Hal ini sering terjadi pada dialog yang menceritakan beberapa orang. Ketika si tokoh mengatakan &ldquo;dia&rdquo; sebaiknya secara tepat mengacu pada sasaran yang dituju, seperti contoh di bawah ini:<br /><em>&ldquo;Kemarin aku bertemu dengan Dinda. Ia jalan sama cowok lain. Tahu nggak siapa orang itu? Dito! Dito yang itu&hellip;., Na!&rdquo;<br />&ldquo;Apanya yang heboh? Dia kan emang terkenal suka gonta-ganti pacar, kan?&rdquo;</em></em></p>
<p><em></em></p>
<p>5. Melekatkan gaya berbicara yang sama kepada setiap tokoh. Tentunya setiap tokoh memiliki karakter unik. Keunikan itu juga salah satu di antaranya tercermin dari cara si tokoh tersebut berbicara. Penciptaan cara berbicara yang menjadi trademark, entah itu dari pemilihan diksi atau dialek, bagi seorang tokoh tertentu bisa membuat kehadirannya menjadi nyata.</p>
<p>6. Terlalu kaku dalam menggunakan narasi pengantar. Narasi pengantar yang umumnya digunakan adalah &rdquo;kata&rdquo;, &rdquo;ujar&rdquo;, &rdquo;tanya&rdquo;, dan &rdquo;perintah&rdquo;. Seperti contoh di bawah ini:<br /><em>&rdquo;Kita akan pergi besok,&rdquo; ujar bapak.<br />&rdquo;Pergi ke mana?&rdquo; Tanyaku.<br />&rdquo;Ke tempat kelahiran ibumu,&rdquo; kata bapak.</em><br />Cobalah untuk mengeksplorasi istilah-istilah yang lain seperti misalnya: &rdquo;kilah&rdquo;, &rdquo;lanjut&rdquo;, &rdquo;potong&rdquo;, &rdquo;tebak&rdquo;, &rdquo;gumam&rdquo;, &rdquo;bisik&rdquo;, dll.</p>
<p>7. Menulis dialog terlalu panjang. Terkadang sebagai seorang penulis, kita tidak sabar untuk menyampaikan begitu banyaknya informasi kepada pembaca sehingga tanpa sadar dialog si tokoh jadi mengembang. Sebenarnya dialog yang panjang berpotensi besar untuk membunuh ketertarikan orang dalam membacanya tuntas. Panjangnya dialog juga bisa membuat suasana eksternal (setting, waktu, dll) yang coba untuk dibangun oleh si penulis menjadi kabur. Jika seandainya dialog memang dibutuhkan panjang, maka seyogyanya untuk memenggalnya menjadi beberapa bagian.<br /><em>&ldquo;Aku percaya ada beberapa orang yang ditakdirkan berbakat secara supernatural. Misalnya aku yang juga dianugerahi bakat cenayang. Namun aku pun masih tetap harus belajar untuk menajamkan kemampuanku. &hellip;.&rdquo;<br />Cassandra mengambil beberapa bendel dokumen dari dalam tas kerjanya.<br />&ldquo;Menurut dokumen ini, ada beberapa macam cenayang &ndash;yang kutahu&ndash; dilihat dari cara mereka menangkap pesan dan mendeteksi keberadaan fenomena supernatural&hellip;.,&rdquo; sambung Cassandra. (Dipetik dari Novel ORB: Galang Lufityanto)</em></p>
<p>8. Hanya mengandalkan dialog saja untuk menciptakan situasi yang diinginkan. Penggunaan dialog yang terlalu sering, tanpa diselingin jeda penjelasan narasi, akan membuat alur cerita berjalan dengan cepat. Gaya seperti ini cocok untuk cerita detektif atau thriller. Namun untuk cerita yang sifatnya lebih umum, gaya seperti ini tidak selalu cocok. Kekurangan dari gaya dialog yang sambung-menyambung adalah kurang dalamnya pelukisan tentang situasi yang tengah terjadi. Contoh:<br /><em>&rdquo;Pak Hugo, mengapa Anda harus membawa..ta..tas itu? Bukannya malah semakin berat?&rdquo; Tanya Roni merasa aneh melihat Hugo memanggul tas besar yang diikatkan dengan erat pada tubuhnya.<br />&ldquo;Oh&hellip;, ini?&rdquo; Hugo menjawab di sela-sela napasnya yang memburu. &ldquo;Kupikir ini akan bisa menyelamatkanku nantinya. Siapa tahu?&rdquo;<br />Sementara itu mereka bertiga berlari semakin jauh ke dalam hutan. Malam sudah sedemikian pekat sehingga Hugo dan Rani hanya bisa mengandalkan senter dan Cassandra yang berlari mendehului mereka, dan yang secara tidak langsung telah membukakan jalan bagi mereka berdua. Cassandra melompati akar sebuah pohon yang melata lumayan tinggi di atas permukaan tanah dengan lihai seakan-akan hutan ini adalah taman bermain Cassandra sejak kecil. Hugo dan Roni lagi-lagi dibuat terpukau oleh kemampuan wanita ini.<br />&rdquo;Seno!!&rdquo; Teriak Cassandra.<br />Sayup-sayup terdengar suara.<br />&rdquo;Di sini&hellip;..&rdquo; (Dipetik dari Novel ORB: Galang Lufityanto)</em><br />Dengan menyelipkan beberapa pokok narasi (dalam contoh: Sementara itu mereka&hellip;..) di antara baris-baris dialog, pembaca dapat melihat adegan cerita sebagai suatu keseluruhan: karakter beserta situasi di sekelilingnya. Ini membuat pembaca mendapat bayangan yang jelas tentang adegan yang berlangsung dan merasakan emosi yang berusaha dibangun oleh si penulis.</p>
<p>Galang Lufityanto</p>
<p>Source: <a href="http://yogya.forumlingkarpena.net/2008/05/22/writing-tips-delapan-kesalahan-umum-dalam-membuat-dialog/">http://yogya.forumlingkarpena.net/2008/05/22/writing-tips-delapan-kesalahan-umum-dalam-membuat-dialog/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://forumlingkarpena.net/2008/12/delapan-kesalahan-umum-dalam-membuat-dialog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>58</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
