Ditulis tanggal : 03 - 10 - 2011 | 10:35:49

Saya tak tahu. Sebenarnya ini surat ke berapa yang ditulis. Surat-surat sebelumnya telah bersitumpuk di sudut-sudut rumah kayu saya yang sempit, di sudut kamar saya yang tentu juga sempit, di kotak-kotak lemari cokelat pias tanpa ukir, beberapa di celah-celah ventilasi dapur. Surat-surat itu bukannya suratsurat yang tak layak kirim.   Pun, bukan kumpulan surat yang tak rampung (yang kebanyakan diremas orang-orang sebelum membuangnya di kotak sampah atau di sembarang tempat). Kertas-kertas (yang kini sudah menguning) itu adalah suratsurat jadi. Surat-surat siap kirim. Namun, sungguh, saya bagai tak tergerak mengantarnya ke kantor pos. Atau sekadar memasukkannya di kotak pos di simpang jalan



Ditulis tanggal : 27 - 09 - 2011 | 09:46:32

  GUNUNG SRANDIL, sebuah bukit yang turut menghias pemandangan pantai di bagian selatan Jawa Tengah. Bukit yang begitu teduh, di antara panasnya pesisir pantai di Cilacap. Sebagaimana saudara kembarnya, Gunung Selok, keduanya ramai dikunjungi sebagai wanawisata. Tak jauh beda, memang identik. Belum lagi, pada beberapa sudut perbukitan merekah liang-liang, mirip gua kecil. Yang kadang bagi orang-orang kejawen sering digunakan untuk melakukan ritual dan bersemedi. Hal-hal mistis tak mempengaruhi daya tariknya. Di antara ngarai, tepatnya di bagian timur bukit tua itu, sebuah telaga masih tenang tanpa desah ombak-ombak kecil menepi. Kilauan cahaya kekuningan berpendar di antara beningnya air. Perigi yang dahulu ada karena pengerukan



Ditulis tanggal : 09 - 09 - 2011 | 14:41:36

JAUH-JAUH rumpun ialang, buah para di lengkung papan. Sungguh riang gadis berdendang, pemuda tampan di kampung halaman.   Itulah yang dirasai Bunga Raya, putri tunggal seorang duda. Semua bukan tanpa alibi, bujang itu adalah Sakiaki. Beberapa hari belakangan, ia selalu jadi pikiran. Di beberapa kesempatan, ia menyelinap dalam perbincangan. Tak hanya oleh kerumunan perawan, tapi juga ibu-ibu yang mulai beruban. Ada yang bilang ia titisan Yusuf. Ada yang menduga ia Malaikat yang menyusup.   Bagai selaras dengan wajah yang simpatik, ia pun dikenal berbudi baik. Ia sangat rajin sembahyang, tegak lurus dengan sifatnya yang penyayang. Bila azan ia kumandangkan, bagai berdenyar telinga yang



Ditulis tanggal : 09 - 09 - 2011 | 14:41:21

Matahari sejengkal dari kepala. Tempat di mana digambarkan Tuhan. Akan sampai di pengadilannya di mana jarak matahari hanyalah tiga ruas jari manis dan dua dua ruas ibu jari tangan. Keringat bercucuran dari ubun-ubun kepala. Hujanlah air dari dari rambut ke tanah. Dari wajah, dada, tangan, dan kaki, mengalir mata air-mata air garam.        “Ah, tidak ada tempat matahari sedekat ini di bumi, kecuali, ya, kecuali….”       Sultan beriringan di antara orang-orang yang berjalan ke pengadilan Tuhan. Dia bangkit seperti tubuhnya sebelum ia mati. Jenggot tebal dan alis mata yang tebal. Berjalan masih dengan baju dan celana yang ia miliki ketika ia menjelang mati,



Ditulis tanggal : 22 - 08 - 2011 | 04:24:35

Ia lebih mirip merpati betina yang sekarat. Tubuh belang tiga. Kepala dan paruhnya hijau tahi kuda. Kedua sayapnya putih salju. Ekornya merah kepiting.    WAJAHNYA YANG KERIPUT tampak letih seolah baru saja terbang dengan sekarung nostalgia di kepala. Ia menghampiri beranda rumah yang kami bangun dari setumpuk kata. Kata-kata itu direkatkan oleh mata pena. Pena pemberian Ibu. Pena Ibu.    Pena dengan tinta airmata, kata Ayah. Tangis Ibu adalah sungai cerita yang menjorok dekat pintu surga, lanjutnya. Jangan tanya mengapa airmatanya berubah menjadi mata air. Yang mampu kuendus adalah, ia bisa mengukur waktu keberadaanya di dunia. Memang ia diserang stroke ketika mendapati buku atas



Ditulis tanggal : 21 - 08 - 2011 | 16:32:21

PERNIKAHANLAH yang mengikat kau dan aku menjadi sepasang kekasih.   Kita seolah-olah membangun kapal. Kau tukangnya, dan aku penyokongnya. Ya, aku yang menyiapkan santapan ketika waktu makan datang, aku yang menyuguhkan segelas es sirup bila kau mulai dahaga, aku akan menghidangkan kudapan bila kau rehat beberapa jenak, dan tentunya aku akan siap memberikan pendapat ketika kau bertanya seperti apa sebaiknya geladak, buritan, atau ruang nahkoda ....   Kata orang, surga adalah pulau terindah yang Tuhan sembunyikan, selorohmu suatu waktu. Kau tahu ’kan, Kekasihku, kalau banyak sekali yang bercita-cita ke sana. Paling tidak, kita sudah memiliki kendaraan sendiri kalau pelayaran sudah dibuka. Syukur-syukur bisa mengajak



Ditulis tanggal : 13 - 08 - 2011 | 13:53:49

PENULIS itu mencopot kedua tangannya dan membuangnya ke tempat sampah. Kedua tangannya menggelepar sebentar lantas diam seperti tangan orang pingsan.   Ia mencopot kedua tangannya begitu saja. Tidak dengan pisau dan semacamnya. Tak ada darah yang membuncah dan semacamnya. Tak ada luka yang menganga dan semacamnya. Ia memperlakukan tubuhnya seperti lego yang dapat dicopot dan dibuang semaunya.   Ada kegetiran yang begitu abstrak, yang tak bisa ia katakan, dan ia mengerti bahwa sejak dahulu kata-kata memang seperti itu: tidak pernah bisa diandalkan untuk menjelaskan segala hal. Kata-kata hanyalah sebuah usaha untuk mendekati kebenaran, tapi selalu berhenti di titik hampir. Ia mengerti sekali akan hal



<< | < | 1 | > | >>