Lelaki Tua Gunung Srandil
Ditulis tanggal : 27 - 09 - 2011 | 09:46:32

 

GUNUNG SRANDIL, sebuah bukit yang turut menghias pemandangan pantai di bagian selatan Jawa Tengah. Bukit yang begitu teduh, di antara panasnya pesisir pantai di Cilacap. Sebagaimana saudara kembarnya, Gunung Selok, keduanya ramai dikunjungi sebagai wanawisata. Tak jauh beda, memang identik.

Belum lagi, pada beberapa sudut perbukitan merekah liang-liang, mirip gua kecil. Yang kadang bagi orang-orang kejawen sering digunakan untuk melakukan ritual dan bersemedi. Hal-hal mistis tak mempengaruhi daya tariknya.

Di antara ngarai, tepatnya di bagian timur bukit tua itu, sebuah telaga masih tenang tanpa desah ombak-ombak kecil menepi. Kilauan cahaya kekuningan berpendar di antara beningnya air. Perigi yang dahulu ada karena pengerukan pasir-pasir besi, yang hingga sekarang dibiarkan tetap tergenang. Kubangan yang berada diantara kedua bukit, seperti pemisah antara dua saudara. Airnya payau, genangan yang air hujan yang terkumpul menjadi satu ditambah dengan aliran air dari sungai kecil yang bercampur dengan air laut. Danau itu memang berbatas langsung dengan laut.

Bukit tua yang begitu asri. Rimbun hijau dedaunan menambah kesyahduan pemandangan. Merdu kicauan burung senantiasa membuka kehangatan pagi. Belum lagi, tawa renyah monyet-monyet hutan yang menyenandungkan rona keceriaan pagi hari. Derik-derik pepohonan yang saling bergesek, menari mengikuti alunan hembusan angin. Belum lagi percik-percik ombak yang sayup terdengar di kejauhan. Benar-benar memadukan keindahan ciptaan Tuhan.

 

TAPI pagi ini, bukit tua itu sepi. Tampak lengang,  entah kemana burung-burung yang biasa  bernyanyi. Kemana pula keriuhan gelak monyet-monyet yang biasa bercengkrama diantara rimbun dedaunan. Walau mentari telah separuh memancarkan sinar kehangatan. Bukit tua itu tetap kaku, dingin dalam kesunyian. Senyap, hanya desir angin sepoi mendendang dengan nada lirih.

Ketenangan air danau makin menambah sepi nuansa alam pagi. Mungkin hanya ikan-ikan kecil di dalamnya yang masih asyik berenang. Atau sekedar bermain petak umpet dengan kawan sebangsa yang memburunya. Namun apa yang hendak dinikmati dari dunia di bawah sana? Hanya kejernihan air yang memantulkan kekosongan.

Seorang lelaki paruh baya melepaskan ikatan sebuah rakit bambu dari patok kayu pada tepiannya. Dia sedang bersiap menjala ikan. Dihelanya rakit itu ketengah telaga dengan sebilah bambu. Batang bambu yang panjangnya tak lebih dari lima meter itu cukup untuk membantunya mendayung.

Disiapkannya pula beberapa joran pancingan yang dirautnya sendiri dari bilah-bilah bambu. Sebagai sambilan di sela-sela menjala ikan, sembari menikmati cimplung. Penganan dari ubi rebus berasa manis gula, dibelinya dari tetangga yang memang menjualnya. Dahaganya terhapus cukup dengan meneguk teh pahit dalam jerigen kecil bawaannya.

Memancing, cara sederhana mendapatkan ikan yang tak menguras tenaga. Hanya menunggu umpan dilahap ikan, kemudian ditarik segera. Namun terkadang tak satupun ikan terpancing, bahkan dari hasil menjala saja cuma sedikit.

Ikan-ikan yang didapatnya memang hanya sekedar untuk pelengkap lauk makan. Bukan untuk dijual, kalaupun sedang mendapat banyak ikan tangkapan, dia boleh membaginya dengan tetangga. Kebutuhan hidup keluarga masih tercukupi oleh anaknya yang biasa berjualan klanthing di pasar Adipala. Memang tak banyak, tapi itu cukup untuk menghidupi keluarganya yang beranggotakan dia, seorang anak perempuannya, menantunya dan cucu semata wayangnya. Namun tak jarang pula, beberapa tetangga yang diberinya ikan hasil tangkapan menggantinya dengan bayaran uang. Sungkan sebenarnya, niatnya memang berbagi, bukan menjual. Rupiah-rupiah itu sebagai ungkapan terimakasih, ujar para tetangganya.

Sampan kecilnya sudah berada di tengah, lelaki tua itu segera mempersiapkan jalanya. Tak sampai di hitungan ketiga, sigap dia melempar. Jaring yang ditebarnya melebar di permukaan air. Jalanya tak cukup lebar, hanya berdiameter kisaran empat meter. Bagi tubuhnya yang sudah renta, tentu masih agak kewalahan. Apalagi ditambah saat menarik jala dari air. Beratnya bisa berlipat.  

 

SANGAT berbeda dengan dua puluh tahun silam. Meskipun telah berusia kepala empat, ia masih sanggup menarik jala walau dengan berat yang berlipat. Bahkan terkadang masih sering ikut melaut bersama anak sulungnya.

Ia masih ingat betul tentang anak sulungnya. Waktu itu usianya masih lima belas tahun, dan duduk di bangku kelas dua SMP. Yang kemudian  memeutuskan berhenti sekolah hanya untuk mendampingi ayahnya berlayar di kala malam. Hingga ia pun tumbuh dewasa, ayahnya sangat bangga. Keberaniannya mengarung samudera menurun kepada putra sulungnya. Badannya yang kekar begitu terlatih untuk melaut. Sosok pemuda yang begitu gagah. Walau tak segagah wajahnya yang legam terpanggang panasnya matahari.

Hingga pada suatu ketika, tepat di usia anak sulungnya yang ke-25. Kedua lelaki itu bahu-membahu mempersiapkan segala perlengkapan dan peralatan melaut. Tak lupa pula disiapkannya bekal perjalanan. Perahu motornya, yang biasa menghantar mereka ke tengah laut pun telah bertengger di bibir pantai. Lepas maghrib nanti mereka segera melaut.

Entah ada angin apa. Sang ayah mendapat firasat tak enak. Namun segera saja ditepis perasaan was-wasnya. Lagi pula malam ini tak ada badai. Langit malam begitu cerah bertaburkan bintang-bintang. Bahkan purnama sudah nampak bulat dan mulai meninggi. Meski laut sedikit pasang, tak gentar mereka menembus ombak-ombak besar laut selatan pulau jawa. Sudah biasa.

Perahunya mulai menerjang ombak, berlalu dari pesisir. Meninggalkan istri dan seorang anaknya lagi yang perempuan, dengan segudang do’a dan harapan. Do’a untuk hasil tangkapan yang melimpah. Serta harapan agar kedua lelaki itu kembli dengan selamat.

Nahak, perasaan tak enak kembali berdesir menggelanyuti dada sang ayah. Benar-benar mengganggu suasana perburuan ikan. Gamang tatapan matanya kepada anak lelakinya, pemuda itu masih sibuk mengemasi jaring.  Berkat bantuannyalah tangkapan malam ini berlimpah. Kelesah, tak terbayangkan bila tak ada pemuda itu.

Belumlah cukup pagi, mereka berencana undur dari tengah laut. Dengan hasil sebanyak itu, walau sudah dipotong untuk dibagi kepada para tetangga. Tetap saja akan merepotkan dia dan istrinya membawanya ke pasar untuk dijual. Maklum saja, mereka hanya nelayan sederhana yang menjual ikan hasil tangkapannya langsung.

Langit tak begitu gelap, gemintang masih berkerlipan di atas sana. Bulan yang sudah beringsut perlahan, masih menyinari dari kejauhan. Nelayan tua itu sedikit melamun. Memandang kosong ke arah lampu petromaks yang tiba-tiba saja meredup. Sementara tangannya masih berpegang pada kendali motor perahunya.

BYURR!! Deburan keras sekejap membuyarkan lamunan. Ia tersentak kaget. Tak dilihatnya lagi tubuh kekar anaknya, yang sedari tadi duduk di anjungan perahu. Kemana gerangan pemuda gagah berani itu?

“nDangan sing miki nyemplung???”[1] 

Disambarnya lampu badai yang bergantung pada tiang kapal. Dipompanya agar tak redup lagi, semakin terang. Diteranginya perahu, dari ujung hingga buritan, sisi kanan dan kiri. Tak kunjung ia temukan sosok anaknya.

Badannya tersungkur lemas, terduduk diantara tumpuk jaring. Napasnya tersengal. Ia masih tak percaya, anaknya telah hilang. Rasa sedihnya bercampur bimbang. Apa yang hendak ia katakan kepada istrinya? Anak lelakinya terjatuh dari perahu. Seketika tenggelam ditelan ombak samudera. Pemuda yang bakal menjadi tempat bersandar di kerentaan usia kini telah tiada. Tanpa tahu dimana mayatnya.

Kepiluannya bertambah, semenjak kejadian itu, sang istri menjadi sakit-sakitan. Bahkan pada purnama kelima, ia harus kehilangan istrinya. Perempuan yang begitu setia mendampingi hidupnya selama ini, meninggal dunia. Walau tak sesedih karena melihat istrinya terbaring diantara sakit yang terus mendera. Tampaknya ia lebih ikhlas istrinya berpulang ke haribaan. Istrinya sudah dijaga dan dirawat oleh Yang Maha Menjaga.

Sang lelaki tua tak pernah lagi melaut. Perahu motornya telah ia jual, untuk menyambung hidup dan membesarkan anak perempuannya. Beruntung, anaknya bisa menamatkan sekolah sampai tingkat SMP. Dan berkat nyambi bantu-bantu tetangganya yang pengusaha klanthing, ia pun bisa punya usaha kecil-kecilan. Dan akhirnya menikah dengan pemuda yang cukup bertanggungjawab, walaupun hanya seorang supir di sebuah peternakan ayam.

 

DITARIKNYA tali jaring yang masih di genggamannya. Perlahan dinaikkannya, disibakkan ruas-ruas jala yang berlipat dan menggumpal. Didapatinya satu, dua, lima ekor ikan berukuran tiga jari orang dewasa. Di ember tempatnya menaruh ikan hasil tangkapan juga sudah ada belasan ekor ikan berukuran hampir sama.

Hari makin siang. Terik telah menyurutkan semangatnya. Walau berpayung caping, tubuh rentanya tak lagi mampu berlama-lama dipanggang matahari.  Ia harus menepi, sejenak berteduh melepas penat, kemudian pulang ke rumah. Mungkin anak perempuannya sudah cemas menunggunya sepulang dari pasar. Lagi pula, ia pun kangen bercengkrama dengan cucunya yang juga baru pulang sekolah.

Disusurinya jalan yang biasa ia lalui, diantara pepohonan perdu yang tak lagi rindang. Dipandanginya bukit gundul di seberang danau itu. Banyak pohonnya habis tertebang oleh tangan-tangan manusia tak bertanggungjawab. Tak ada lagi tempat bersarang perkutut-perkutut yang biasa bernyanyi merdu di sore hari. Hilang juga rumah bagi kawanan monyet penghuni bukit itu. Lebih tragis lagi, primata-primata itu juga diburu untuk diperdagangkan. Musnah sudah penyejuk di panasnya daerah pesisir.

Tak lebih dari setengah jam, ia telah keluar dari kaki perbukitan. Kini ia tinggal berjalan menyusuri jalan kampung bertanah yang nyaris tak berkerikil. Batu-batu kecil yang dahulu merata menutup permukaan tanah, kini justru tertimbun. Sebagiannya telah berganti menjadi rerumputan kecil.

Belum sampai di rumah, lelaki tua itu tetap melakukan kebiasaannya. Membagikan ikan hasil tangkapannya. Itu memang janjinya, akan tetap menjadi nelayan hingga akhir hayat. Aktifitasnya yang satu itu sudah sering dilarang oleh anak dan menantunya. Mereka begitu khawatir, mengingat sang ayah sudah sangat sepuh. Pandir, tetap saja dikerjakan. Itu pula dilakukannya untuk mengenang dua orang terkasihnya. Dengan melakukan itu, dia merasa selalu bersama keduanya.[]

 

Penulis yang akrab disapa ‘frozz’ punya nama asli yakni Fathur Rozi. Keterlibatannya dalam dunia menulis adalah karena terpaksa. Amanah dalam berorganisasilah yang menuntut harus bisa menulis. Semula tentang jurnalistik. Hingga menuju penghujung tahun 2004, penulis ditawari untuk ikut menjadi penggiat FLP Purwokerto. Kepalang basah, masuk ke dalam sumur sekalian untuk menimba ilmu kepenulisan. Email: frozza0904@gmail.com

 

Catatan kaki:

[1] Jangan-jangan yang tadi jatuh?

 

Cerpen ini pernah dimuat di Harian BERITA PAGI Palembang, Minggu 20 Maret 2011

 


KOMENTAR

2 Komentar

salut..
Dikirm oleh : Nimas, tanggal 05 - 12 - 2011
bagus.. mengharukan..:')
bimbingannya blajar nulis,,
terharu
Dikirm oleh : affiza, tanggal 02 - 02 - 2012
Tulisannya bagus,mengharukan...

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Judul :


Komentar :