Padang Mahsyar Ditulis tanggal : 09 - 09 - 2011 | 14:41:21
Matahari sejengkal dari kepala. Tempat di mana digambarkan Tuhan. Akan sampai di pengadilannya di mana jarak matahari hanyalah tiga ruas jari manis dan dua dua ruas ibu jari tangan. Keringat bercucuran dari ubun-ubun kepala. Hujanlah air dari dari rambut ke tanah. Dari wajah, dada, tangan, dan kaki, mengalir mata air-mata air garam.
“Ah, tidak ada tempat matahari sedekat ini di bumi, kecuali, ya, kecuali….”
Sultan beriringan di antara orang-orang yang berjalan ke pengadilan Tuhan. Dia bangkit seperti tubuhnya sebelum ia mati. Jenggot tebal dan alis mata yang tebal. Berjalan masih dengan baju dan celana yang ia miliki ketika ia menjelang mati, baju hijau tua dan celana dasar hitam.
“Kita telah sampai.” Seseorang di sampingnya berujar. Sultan menoleh ke kiri. Oh, Salim, temannya semasa ia hidup. “Kita telah sampai di pengadilan Tuhan, tempat di mana yang kita anggap mati, bicara.” Mereka berjalan seiring. Jauh di depan, sepanjang mata memandang hanya hamparan manusia. Manusia-manusia yang bangkit dengan tubuh yang ia miliki.
“Inikah yang dinamakan Padang Mahsyar?” Salim menundukkan kepala ke bumi. Mendongak ke matahari seperti terbakar isi mata. Menggelegak air mata. Maka saat itu yang bisa mereka lakukan, menunduk ke bumi, melihat depan dan belakang, menoleh samping kiri dan kanan.
“Aku masih belum percaya ini Padang Mahsyar.”
“Orang-orang berkumpul bagai pasukan perang yang menyerah, senjata mereka telah dilecuti.” Salim menunjuk-nunjuk gerombolan manusia yang berhamparan di depannya.
“Tidak ada hewan berkaki dua, orang berbadan setengah hewan, orang yang serba hitam, orang yang serba putih.” Sultan menoleh ke depan dan belakang. Kemudian menoleh ke kanan dan kiri. Tak ia temukan apa yang ia cari.
“Lihat apa?”
“Orang-orang yang bangkit dengan tubuh yang hitam dan tubuh yang putih. Tempat di mana orang yang bertubuh hitam lahir dengan kegelapan. Orang yang bertubuh putih bangkit dengan bercahaya. Ia dilindungi awan. Tidak ada. Ini bukan Pedang Mahsyar.”
Orang-orang berjalan berdesakan. Suara-suara itu mengaung. “Ampuni aku Tuhan.” “Telah tiba masa perjanjian.” “Inikah pengadilan Tuhan.” “Binasalah jiwa kita.” “Telah tiba kiranya hari kemenangan.” “Surga di depan kita.” “Neraka sebentar lagi membakar.” “Celakalah kita.”
“Kita akan dibawa kemana?” Sultan memperhatikan setiap orang yang berdesakan. Senyum. Tangis. Sedih. Tanpa rona. Gembira. Bahagia. Ah, banyak rancamnya. Kemudian mereka berdua ikut berdesakkan.
“Kita akan pergi ke timbangan amal. Orang-orang ini juga akan pergi ke timbangan pengadilan paling adil. Sebesar zarah pun tidak akan luput dari pengadilan.” Air hujan terus berjatuhan. Mata air-mata air terus mengalir. Tangis-tangis terus pecah. Tak segumpal awan di langit. Burung-burung tak kelihatan. Sebatang pohon pun tak tumbuh. Ah, sangat serupa dengan hamparan laut. Bedanya ini tanah yang tandus dan rengkah-rengkah. Kaki-kaki itu berjalan dengan gontai. Tangan-tangan itu berjalan dengan lunglai.
“Sudah berapa lama kita berjalan?” Sultan melirik Salim. Ah, di samping Salim, orang-orang berjalan dengan mengirit-irit kakinya. Laki-laki dan perempuan, bercampur. Sibuk dengan diri masing-masing. Tidak ada yang bercakap. Kecuali, ya, kecuali mereka berdua.
“Mungkin sudah seratus tahun.”
“Seratus tahun, sudah seratus tahunkah kita bercakap-cakap seperti ini? Mungkinkah itu?”
“Kita sedang di pengadilan Tuhan.”
“Ah, artinya sudah seratus ribu tahun dalam perhitungan dunia kita. Aku tidak percaya.”
“Air.” “Makan.” “Haus.” “Lapar.” Suara-suara itu makin serabutan. Semakin lama semakin mendesak. Suara-suara itu menjadi suara dentuman. Suara-suara itu terus bergelombang. Laki-laki dan perempuan meronta di padang pasir. Manusia makin ramai beriringan ke pengadilan Tuhan.
“Apa pekerjaanmu di dunia semenjak kita berpisah dengan masa kanak-kanak kita?” Sultan melihat tanah yang berbingkah-bingkah. “Kita dahulu hidup di aroma ladang. Kemudia berpisah dengan aroma kota. Kau pergi ke Padang, aku pergi ke Solok. Walau berjarak dekat tapi kita tidak pernah bertemu. Kau tidak pernah pulang, aku pun begitu.”
“Aku menjadi pencuri.” Salim mengembang senyum yang layu. Seseorang dari belang menerobos jalan mereka. Kemudian masuk ke dalam kerumunan orang. Seseorang lagi menerobos jalan mereka. Kini mereka berpegangan tangan biar tidak diterobos kembali.
“Aku hidup sebagai orang miskin di kota. Sebab aku hanya membawa ijazah sekolah dasar. Apakah Tuhan akan mengadili aku yang telah mencuri karena kemiskinan?” Lanjut Salim.
“Aku bukan Tuhan. Tapi percayalah, Tuhan maha adil.”
“Ah, jadi kau sudah percaya bahwa kita sudah di Padang Mahsyar?”
“Entahlah. Satu hal yang aku tahu, aku sudah mati.”
“Aku suka mencuri dengan mengambil jalan aman. Aku tidak mencuri di angkot atau bus kota. Aku juga tidak mencuri di rumah-rumah mewah. Alasannya aku tidak mau mencuri memakan dua kali uang haram. Pertama uang yang aku curi sudah pasti haram. Kedua, uang orang yang aku curi di rumah mewah belum tentu halal.”
“Kau ada-ada saja. Mencuri kok malah pakai pertimbangan.” Kini mereka berjalan sudah berhimpit-himpitan. Jarak antara satu dan lainnya jarak orang yang baru saja menyaksikan piala dunia pada babak final. Yang satu dan yang lainnya saling menerobos. Samping depan, belakang, kiri, dan kanan adalah tumpukan manusia yang saling berebut tempat.
“Aku juga tidak mencuri di gedung atau bank. Alasannya masih alasan yang sama. Aku suka mencuri dengan dua cara yang damai. Pertama dengan modus kontak infak. Aku ambil nama sebuah masjid dan aku buat stempelnya. Aku jalankan kotak infak itu atas nama masjid. Padahal itu asli untuk perutku dan anak-anakku. Kotak itu aku jalankan di pasar pusat kota dan di simpang-simpang lampu merah.”
Matahari semakin membakar. Kepala mereka seperti akan menggelegak. Telapak kaki mereka serasa menginjak bara api. Tapi tidak satu pun dari mereka yang melepuh, atau tiba-tiba api hidup di kepala. Kecuali, ya, kecuali suara mereka yang semakin tak tentu. Telah melebihi kehirukpikukan pasar.
“Modus kedua dengan menjadi kelelawar. Aku mencuri kotak infak masjid malam-malam hari. Aku congkel jendela dan diam-diam masuk membuka gembok kotak infak. Lumayanlah, dua ratus sampai tiga ratus ribu dalam sehari semalam. Kau sendiri bagaimana?”
“Aku keliling kota dengan jual sate.”
“Baguslah pekerjaanmu halal. Kau akan dapat tempat selamat di sisi Tuhan. Kau akan mendapatkan rumah dibuatkan dari permadani. Minum air susu telaga surga. Memakan buah apel, pokat, mangga yang tidak ditemukan kelezatannya di dunia.”
“Kau tahu?”
“Aku membaca di buku-buku agama di toko loak.”
“Aku membuat sate tikus dan sate anjing. Aku tidak punya uang membeli daging sapi atau kambing.”
“Kita sama-sama masuk neraka.”
“Kau membaca di mana?”
“Aku membaca di buku-buku agama di toko loak.”
Ah, mereka masih berjalan seperti tidak akan ada habisnya. Kemudian Sultan dan Salim tersadar bahwa tinggal mereka berdua. Mereka dengan padang yang luas dan matahari sejengkal dari kepala. Di tanah hanya jejak-jejak bahwa ada sangat banyak orang tadi bersama mereka, tapi jejak itu jejak sapi, kambing, kerbau, anjing, buaya, dan kuda. Mereka tak percaya.
“Kenapa bisa?” Kata Sultan.
“Jejak kita?” Salim mengangkat kaki. Mengangkangkan dua kakinya. Sultan mengikuti.
“Masih manusia,” ujar mereka serentak.
“Sate itu aku jual di pasar pusat kota. Menghidupi lima orang anak dan seorang istri tidaklah sanggup dengan kerjaan membecak. Aku pesan tikus kepada orang-orang pemukiman kumuh. Tempat di mana tikus sering bersarang. Aku pesan juga tikus kepada orang-orang kaya, sebab mereka biasanya memasang perangkap tikus dalam gudang. Kalau mereka Tanya untuk apa tikus-tikus itu, aku katakan untuk dibasmi secara masal. Dan mereka percaya saja. Kalau anjing, saya tinggal menangkapnya malam-malam hari. Banyak anjing kurak berkeliaran di kota. Jadi tidak susah-susah mengeluarkan uang.”
“Ah, kau lebih mengerikan daripada aku.” Salim mengernyitkan dahinya. Matahari tepat di ubun-ubun kepala, seperti jam dua belas siang. Mereka melepaskan pegangan tangan mereka. Meneruskan perjalanan. Mereka saksikan kuburan-kuburan. Orang-orang keluar dari kuburan. Mereka bak cendawan di musim hujan. Mayat-mayat itu bangkit dengan tubuh yang aneh. Ada yang bangkit dengan tubuh yang hitam legam. Ada yang lidahnya menjulai-julai. Ada yang perutnya buncit seperti drum. Ada yang bangkit dengan tubuh dikelilingi api, kecuali wajahnya saja yang tidak dikeliling api dan dia memekik sepanjang jalan. Ada yang bangkit dengan matanya menanah. Ada yang bangkit dengan tubuhnya ditumbuhi belatu. Ada yang bangkit dengan kaki babi. Ada yang bangkit dengan tubuh cahaya dan awan bernaung di kepalanya. Ada yang bangkit dengan baju serba putih dan wajah berseri. Ada yang bangkit dengan wajah begitu cerah dan refres.
“Kau sudah percaya ini Padang Mahsyar?”
“Tampaknya begitu. Tuhan benar-benar akan mengadili kita. Ah, celakalah kita.”
“Nanti dulu. Kau percaya tidak dengan kebaikan Tuhan?”
“Tentu.”
“Kau pernah mendengar kisah perempuan pezina yang dijamin masuk surga karena menolong seekor anjing yang kehausan? Ya, bisa jadi kita juga seperti itu.”
“Entahlah. Ah, kapan akan sampainya ke pengadilan Tuhan yang kau maksud?”
“Seribu tahun perjalanan.”
“Selama itukah kita terdampar dalam perjalanan ini?”
“Menurut cerita para penyampai amanat Tuhan seperti itu.”
“Baik, mari kita lanjutkan perjalanan. Kalau sateku tidak laku terjual, aku memberikan sateku kepada mereka yang kelaparan di tengah malam buta. Ada suatu waktu sateku habis aku bagikan kepada mereka yang tidur di emperan kota. Hari sedang hujan lebat. Dalam pikiranku, aku harus beramal sekali-kali walau dengan sesuatu yang haram. Maka habislah sate daging tikus dan anjing. Aku pulang dengan senyum sumringah karena merasa telah beramal.”
“Aku juga memberikan uang hasil curianku kepada mereka yang juga peminta-minta. Tidak apa-apa kalau kita yang pencuri ini juga ikut beramal. Tidak ada dosanya melakukan pekerjaan amal. Setidaknya Tuhan akan memperhatikan amalan kecil kita itu.”
***
“Ah, telah seribu tahunkah perjalanan kita di padang gersang ini, Salim?”
“Mungkin. Kita sedang berjajar menerima buku timbangan amal kita.”
“Ah, celaka kita, Salim.”
“Sultan Malin Kuning,” ujar malaikat.
“Saya,” ujar Sultan mengangkat telunjuknya.
“Muhammad Salim.”
“Saya,” ujar Salim mengangkat tangannya.
“Saudara Sultan silahkan ambil buku catatan amalmu.” Malaikat menyerahkan dengan tangan kiri. Sultan mengambilnya dengan kanan. Sultan berjalan ke depan. Kemudian berhenti menunggu Salim.
“Saudara Muhammad Salim silahkan ambil buku catatan amalmu.” Malaikat menyerahkan dengan tangan kiri. Salim mengambilnya dengan tangan kanan. Sultan dan salim kembali berjalan beriringan. Kemudian mereka meneruskan perjalanan, di depan mereka bersimpang jalan ke surga dan neraka.
“Sultan kau diserahkan buku catatan amal oleh malaikat dengan tangan kiri atau kanan?”
“Aku lupa. Kau gimana?”
“Aku juga lupa. Menurut buku-buku yang aku baca, kalau buku catatan amal itu diserahkan dengan tangan kiri berarti amal buruk kita lebih banyak dari amal baik. Kalau dengan tangan kanan kita bearti amal baik lebih baik banyak dari amal buruk, artinya kita akan menju pintu surga. Ah, sudahlah mari kita teruskan perjalanannya.
”***
Padang, 2011
Singgalang, 14 Agustus 2011
Biodata
Alizar Tanjung, Sekretaris Umum FLP Sumbar, lahir di Solok, dusun Karang Sadah, 10 April 1987. Ia sekarang tercatas sebagai Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat. Beralamat di Jalan M. Yunus. No. 126 RT 04/ RW 03, kel. Anduring. Kec. Kuranji, Padang, Sumbar. 25151.
Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, dan esai, dipublikasikan di berbagai media lokal dan nasional; Harian Tempo, Sindo, Suara Pembaharuan, Jurnal Nasional, Pewarta Indonesia, Berita Pagi (Palembang), Linggau Post, Singgalang, Padang Ekspress, Haluan, Majalah Sabili , Majalah Gizone, Majalah Annida Online, Majalah Tasbih, Suara Kampus. . |