Ditulis tanggal : 22 - 08 - 2011 | 04:21:12

   Jam sudah penunjukkan pukul 12 siang, matahari bersinar sangat terik siang itu. Hujan telah lama tak membasahi bumi tempat kelahiran  Tuanku Imam Bonjol seorang pahlawan kebangaan penduduk Sumatera Barat itu, sehingga debu beterbangan kian kemari, sesekali melesat masuk kerongga mata yang tak pelak akan membuat si empunya mata akan merasa perih.  Indah mempercepat langkahnya, yang ada difikirannya sa’at ini adalah segera sampai di kantor tempat dia bekerja, kebetulan hari ini dia masuk agak telat karena malam tadi pukul 21.00 WIB neneknya meninggal, jadi dia harus masuk kerja setelah acara pemakaman selesai.  “Aduh.. panas nya…” Indah membatin , seraya mengayunkan secarik kertas



Ditulis tanggal : 13 - 08 - 2011 | 13:39:51

Teh untuk kita berdua, dan kita berdua untuk tehAku hanya untukmu, dan kau hanya untukku (Irving Caesar) Apa jadinya ketika para peminum sekaligus pecinta teh seluruh dunia berbagi cerita?Semua tersaji manis dalam buku “Chicken Soup for the Tea Lover’s Soul”. Buku cantik bersampul putih terbitan Gramedia Jakarta, dengan alih bahasa oleh Donna Widjajanto. Yang terjemahannya apik, membuat nyaman dan tenang pembacanya. Persis semacam menyesap secangkir teh terbaik yang sangat enak. Lalu, apa cerita-cerita mereka?1. Shirley yang tinggal di rumah kayu sebelah utara Wisconsin, seorang pekerja lingkungan, mengawali cerita dengan mengutip ucapan Eleanor Roosevelt “Perempuan seperti sekantong teh: Kau tak pernah tahu seberapa



<< | < | 1 | > | >>