Mencari Wajah Utuh Alim Ulama Catatan kecil Komparasi Film dan Novel Di Bawah Lindungan Kabah Ditulis tanggal : 19 - 08 - 2011 | 16:13:31 
Syekh Ali at-Thantawi, “Jangan sekali-sekali meremehkan perasaan, sebab manusia menjadi manusia dengan perasaannya. Ia adalah tempat persinggahan paling suci di dunia ini: iman dan cinta”
Hal yang mengharu-biru dunia kecil dan dunia besar ini sesungguhnya adalah persoalan Cinta. Demikian pesan yang ingin disampaikan Hamka dalam novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah”. Tetapi Cinta seperti apa? Cinta untuk siapa? Cinta dengan makna bagaimana?
Pembahasan tentang cinta dalam Al-Qur’an dan hadits begitu banyak, bahkan Al-Qur’an adalah kitab yang bertabur kisah cinta. Cinta antara Adam dan Hawa, cinta antara Yusuf dan Zulaikha, hingga dalamnya cinta Ibrahim kepada putranya Ismail, dalam shirah Nabawiyah Rasulullah Muhammad SAW adalah pecinta agung yang mencintai ummatnya melalui istri-istrinya, bercanda mesra dengan A’isyah dan menangani perasaan cemburu A’isyah dengan menyebut-nyebut cintanya pada Khadijah. Islam adalah cinta.
Pesan cinta yang agung antar manusia dan kemudian berserah diri pada CINTA pada Ilahi, adalah tema yang ingin disampaikan Hamka, terangkum dalam keseluruhan novel ini , terserak dalam beberapa kalimat dalam novelnya, salah satunya keluar dari lisan Rosna: “Tidak, Nab, cinta adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari langit: bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lain menerimanya...”
Tema abadi tentang cinta memang tak habis dibahas dari zaman ke zaman, cinta tak taktercapai versi verona, Romeo and Juliet yang konon terinspirasi kisah cinta Qais dan Layla (Layla-Majnun) karya penyair persia Nizami, boleh jadi senada dengan novel ini.
Konflik batin yang menajam dalam diri Hamid adalah ketika ia memutuskan untuk mengiyakan permohonan Mak Asiah ibunda Zainab untuk membujuk Zainab agar menerima perjodohannya dengan kemenakan almarhum ayahnya. Manusia mana yang dengan lapang dada bisa menyarankan orang yang dikasihinya untuk menikah dengan orang lain? Tetapi Hamid memilih untuk melakukannya dengan berat dan pertentangan dalam dunia kecil dalam dirinya. Berharap apa yang kurang di dunia akan di penuhi di akhirat.
Ini konflik yang sebenarnya dalam diri setiap manusia, perasaan cinta pada dunia (kekasih, anak, harta, pasangan adalah duniawi) dan Hamid memilih akhirat, ia memilih Allah.
Kontradiksi dalam Film di Bawah Lindungan Ka’bah: Wajah Ulama yang Miris
Ada sebuah adegan yang menurut saya tidak pas dalam menggambarkan ulama dalam film ini, bahkan terkesan ‘mendiskreditkan’, yakni pada saat mengambil keputusan dalam persoalan Hamid yang ‘menyentuh’ Zainab ketika Zainab hampir mati karena tercebur sungai. Dalam Islam, haditsnya jelas:
... فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا، فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا، لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ ...
... Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian, kehormatan kalian, haram atas kalian seperti terlarangnya di hari ini, bulan ini dan negeri ini. Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir....[1]
Tindakan Hamid adalah tidak melanggar syariat, karena ia melakukannya untuk menyelamatkan nyawa Zainab. Pertanyaannya adalah:
1.Mengapa keputusan dari dialog para ulama di dalam surau tidak berdasarkan awlawiyaat di dalam fiqh yang disepakati oleh ijma’ ulama ini?
2.Mengapa dialog yang terlihat mengambil berbagai sudut pandang keilmuan dari pada ulama yang berada di dalam forum ini, tidak disampaikan kepada khalayak di luar surau yang menunggu-nunggu keputusan para Ulama sebagai upaya tarbiyah yang semestinya diberikan oleh Ulama kepada jama’ahnya?
3.Jika memang al-urf (adat istiadat) yang dijadikan landasan sebagai pengambilan keputusan, adat istiadat Minang yang mana yang digunakan?
Upaya untuk menghadirkan alur konflik yang membangun ketegangan dari scene ini memang luar biasa. Saya mengira penulis script mengalami kesulitan membangun alur konflik dari novel aslinya sehingga memutuskan untuk memberikan scene tambahan yang sebenarnya tidak ada dalam novel aslinya.
Hanya saja pesan saya, hati-hati.
Mudah-mudahan para pemirsa film, sebelum menonton filmnya MEMBACA terlebih dahulu NOVELNYA, sehingga memiliki analisis kritis dan pandangan yang lebih komprehensif terhadap isu sebenarnya yang coba ditawarkan oleh pengarang besar, ulama besar seperti Buya Hamka. (Izzatul Jannah*)
Wallahualam bishshawwab.
*Nama pena dari Setiawati Intan Savitri Ketua Umum Forum Lingkar Pena periode 2009-2013
1) ( Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 67, 105, 1741) dan Muslim (no. 1679 (30)), dari Sahabat Abu Bakrah Radhiyallahu 'anhu.)
|
Tentulah produser berfikiran apa yang dia buat menurut kalkulasi pasar akan menguntungkan.
Mengikuti scipt asli dari suatu karya tulis sangat jarang dilakukan apalagi bagi produser dari Indonesia, dan implikasinya banyak perombakan script, sehingga mengjadi hal hal yang menimbulkan banyak pertanyaan bagi kritikus amatir tentunya ( karena ini Indoensia )
lagi lagi karena budaya kritik film di indonesia belumlah mempunyai sistem yang tangguh
Sehingga belum layak disebut profesional.
so berlenggang kangkunglah script script tak bermutu tadi memenuhi permintaan produser.
menyikapi pesan untuk membaca dahulu karya asli dari Buya Hamka tersebut, karya itu pernah pula dikritisi menyadur dari karya sastra asing tenggelamnya kapal vanderweig.
Tapi menyadur atau bukan memang perlu semua variable tersebut diketahui, sebagai suatu penikmatan komprehensive suatu karya akan terasa lebih bermakna.
Sehingga tentunya tidak percuma apabila terjebak menonton film tersebut.