Pada Mulanya Adalah Kata
Ditulis tanggal : 08 - 08 - 2011 | 15:34:41

”Kata adalah sepotong hati” kata Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi, pemikir dan pemimpin pergerakan Islam di India. ”Kata adalah senjata” kata Subcomandante Marcos pemimpin EZLN Tentara Pembebasan Nasional Zapatista sebuah gerakan perlawanan petani adat di negara bagian Chiapas Meksiko Tenggara, seorang pejuang yang selalu membawa-bawa setumpuk novel dan puisi di dalam ranselnya.


”Kata adalah Jendela” kata dia, seorang gadis kecil sebelas tahun yang terpesona pada kata ”lazuardi”. Apa itu artinya? tanyanya. Lalu dengan keheranannya yang dibawanya, ia menulis puisi dengan kata-kata itu. Lalu ia menemukan gairah, ketenangan, bahkan kedamaian ketika mengukir kata-kata pada kertas putih dalam buku hariannya. Ia membaca kata, menulis kata, merangkainya menjadi kalimat, mengunyahnya di pagi hari dan meminumnya di malam hari, ia kenyang dengan kata-kata, ia bahkan menghafal kata-kata, mengerutkan kening pada yang tak tertemu maknanya, lalu kegirangan ketika mendapatkannya, pada mulanya begitu saja.


Lalu ia mendapatkan kebahagiaan, lalu ia bisa mengusir gelisah dari hati dan pikirannya. Ia merasa lega. Ia merasa seluruh semesta, gunung, laut, hutan, ngarai, lembah, rembulan, matahari, bintang, meresap dalam dirinya, melalui kata-kata. Baginya kata-kata adalah jendela yang darinya ia bisa menatap sepuasnya dengan mataindera, matahati, mata batin, mendengar dengan telinganurani, telingahakiki, menghirup mawar duka dan kamboja bahagia. Demikianlah, gadis kecil yang mengusir gelisah dan menyongsong bahagia dengan kata-kata itu adalah saya.


Jika Anda menanyakan pada gadis kecil itu jadi, mengapa ia menulis? Boleh jadi ia menulis untuk dirinya sendiri. Egoiskah? Menurutnya tidak, karena kata Allah Tuhannya yang Maha Berkata-kata berkata, In ahsantum ahsantum li anfusikum. Sesungguhnya kebaikan yang kau lakukan adalah untuk dirimu sendiri. Jadi, ia merasa ketika ia merasakan kelegaan dan kebahagian melalui kata-kata, itulah sebab ia menulis. Ya, mencari Bahagia. Sebuah sebab yang mungkin egosentris bagi Anda, altruis bagi para ahli jiwa, tetapi sah bagi dirinya.


Apakah ia pernah berhenti mengukir kata-kata dalam kesempatan yang diberikan kepadanya? O, tentu. Ia terkadang bosan, tumpul, dan tak lagi bernas. Hey, lihatlah apa yang dilakukannya: Ia kembali mencari makna kata-kata dengan mendayung perahunya pada sajadah kata, toko-toko buku ber-ac untuk mencatat makna-makna yang begitu mahal terasa dikantongnya, untuk didapatkannya di toko loak di shopping atau di bundaran Gladak, atau ia melayari lautan dengan mengendarai bus kota, kereta api, mengamati kata-kata yang tersemat di wajah orang-orang yang lalu lalang, memungut kata-kata dari senyum, tangis, dan derita seniman jalanan, atau sejumlah pengungsi yang dihardik oleh pagi yang runtuh tiba-tiba.

 

Jika tidak, maka ia akan menajamkan telinga mendengar orang-orang pintar mendendangkan kata-kata dari pojok-pojok ruang diskusi di kampusnya, lalu tersenyum dan bahagia. Hal lain, ia akan mengajak anak-anaknya terbang ke tempat indah yang tak bernama, mengajak mereka menjelma kupu, menyaru matahari, meminjam tubuh sang angin untuk berhembus kesana-kemari, lalu ia tersenyum dan bahagia. Ia mendapatkan kembali harta karunnya, lalu mulai lagi menatah kata-kata.


Tahukah Anda,


Apa yang menjadi mimpinya? Ia ingin pada akhirnya, ketika ia tak lagi mampu berkata-kata. Ia meninggalkan sejarah.


Maka demikianlah, agar ia merasa tak mati sia-sia.

 

(Intan Savitri)


KOMENTAR

6 Komentar

Assalamu'alaikum...
Dikirm oleh : Rostati, tanggal 10 - 08 - 2011
Subhanalloh, tanpa kata pun tiada kalimat tercipta.
Salam menulis....
Kereeen
Dikirm oleh : Afifah Afra, tanggal 11 - 08 - 2011
Kata adalah sarana mengungkapkan "I Love You" kepada orang yang kita cintai... :-)
Sejuk
Dikirm oleh : Robin Satyadin, tanggal 12 - 08 - 2011
kata bijak menebar salam dan menebar damai, yang terkuak dari jiwa2 bersih, jiwa yang ingin memberi kepada sesama dengan kekuatan "pesan" yang teersusun dari kata...
Membangun Makna Lewat Remah Kata
Dikirm oleh : M. Irfan Hidayatullah, tanggal 16 - 08 - 2011
Remah kata yang tak sengaja kita pungut dari pinggir jalan kehidupan adalah nyawa bagi makna. Buah kata yang sengaja kita petik dari pohon pengalaman adalah kehidupan itu sendiri. Bintang kata yang kita teropong di langit imajinasi adalah titik-titik kuasa-Nya. Detak kata pada jantung kreativitas adalah energi bagi gerak diri. Sungguh, dari mana pun asal kata, ialah sumber makna.
pada mulanya adalah kata
Dikirm oleh : ahmad kiran, tanggal 29 - 11 - 2011
kata-kata bisa menghidupi. Afwan, kami dari pacitan bisa dirikan cabang FLP? ana dah tulis satu buku dan aktif dalam kegiatan kewartanan, dari cetak sampai televisi
1000 jempol..
Dikirm oleh : Shady Sant, tanggal 29 - 11 - 2011
1000 jempol tertujukan kepada sang perangkai kata...

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Judul :


Komentar :