Rubrik Artikel Terbaru Link Terkait | | Ditulis tanggal : 10 - 11 - 2011 | 10:27:12
Sebagai penikmat sastra –dan kadang-kadang iseng menulis karya sastra– pernah terlintas di benak saya bagaimana hukum menulis cerpen (apalagi novel)? Bukankah ada seperti unsur membohongi gitu? Menulis cerpen itu kan mengarang (insya') dan mengarang itu kan mengada-ada –heheh–, apa nggak "ngapusi", membohongi? Kan tokoh-tokohnya, kejadiannya, latar belakangnya, tempat kejadiannya; bias jadi rekaan semua,walau diangkat dari kejadian sehari-hari dengan merubah pelakunya.
Hal ini pernah merisaukan pikiran saya lumayan agak lama, sebelum saya mendiskusikannya dengan beberapa Guru-Guru Besar saya yang masing-masing memberikan jawaban berbeda sesuai dengan wijhah nadhor (sudut pandang) masing-masing, meski inti jawaban adalah sama.
Cerpen, dalam istilah Arab disebut "Riwayah" atau "qisshoh
|
Ditulis tanggal : 13 - 10 - 2011 | 20:02:43
Sebuah karya sastra tidak lahir begitu saja. Ia tidak muncul dari ruang yang kosong. Karya sastra yang kuat biasanya lahir dari penulis yang pula kuat visi atau pandangan kepengarangannya. Dalam esai singkat ini kita mencoba menyimak visi ketuhanan khususnya keislaman dalam karang-mengarang. Dalam esai ini kita antara lain akan membaca dengan singkat beberapa karya dan pemikiran sastrawan Islam. Kuntowijoyo, Sutardji Calzoum Bachri, dan Danarto adalah contoh sebagian sastrawan yang menjadikan Tuhan sebagai sahabat dalam berkarya.
Judul karangan ini mengacu pada kalimat Hamdy Salad dalam buku Agama Seni: Refleksi Teologis dalam Ruang Estetik (2000). Sementara pembahasan karya sastrawan yang disebut di
|
Ditulis tanggal : 10 - 10 - 2011 | 12:57:12
Tidak Berdiri di Atas Satu Kaki
Saya pikir, mengarang adalah melukis. Kata-kata adalah catnya. Kemampuan melukis diawali dari kecakapan dasar, yaitu menggambar. Saya masih ingat. Ketika masih duduk di bangku SD, kesenian adalah pelajaran yang saya tunggu-tunggu.
SEBENARNYA, tidak semua jenis (ke)seni(an) saya sukai. Tapi, guru kesenian kami sering memberikan pelajaran menggambar. Sering menyuruh menggambar, lebih tepatnya. Menggambar apa saja.
Saya sangat suka menggambar pemandangan. Di benak saya, pemandangan adalah dua buah gunung, beberapa petak sawah di lerengnya, beberapa pohon kelapa di sisi kanan atau kiri gunung tersebut, beberapa burung elang yang terbang di atas gunung, langit yang polos, awan keriting,
|
Ditulis tanggal : 26 - 09 - 2011 | 14:01:18
Rinai Kabut Singgalang (RKS) karya Muhammad Subhan terbit pada Januari 2011 menyemarakkan dunia sastra Indonesia. Novel ini seperti gabungan antara novel semibiografis dan novel islami, hanya saja menggunakan gaya bahasa klasik, seperti karya sastra Indonesia paruh pertama abad 20. Novel ini membawa ingatan saya pada gaya tutur roman Siti Nurbaya atau pun Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck; gaya bahasa yang mendayu-dayu seperti puisi dan cenderung menggunakan kalimat inversi—predikat mendahului subjek.
Muhammad Subhan secara tidak langsung telah memberi sinyal bahwa novelnya ini memang sangat terinpirasi—atau terobsesi?—dengan karya-karya Buya Hamka. Di awal buku, kita disuguhkan kutipan buku Hamka, “Seni tidak ada kalau cinta
|
Ditulis tanggal : 23 - 09 - 2011 | 15:18:21
MELEPAS Dahaga dengan Cawan Tua: Hikmah-hikmah Islami Klasik untuk Generasi Modern (Salamadani, 2011) karya Topik Mulyana berisi sepuluh cerita pendek. Lewat karya prosanya, Topik Mulyana menawarkan wacana sufisme di tengah kehidupan keseharian masyarakat modern kontemporer.
... Kehidupan masyarakat kontemporer dipengaruhi kuat oleh nilai-nilai materialisme, hedonisme, dan postmodernisme. Dalam cerpen “Guratan”, misalnya, kita betermu dengan tokoh profesor yang tampak mengamini kematian identitas. Kematian identitas merupakan salah satu ciri yang berkembang dalam masyarakat postmodern akibat kecenderungan hasrat yang mengalir tanpa interupsi.
Tokoh profesor tersebut tipikal manusia postmodern yang ingin melihat diri mereka, sebagaimana disebutkan Fellix Guattari, sebagai makhluk dengan beragam identitas,
|
Ditulis tanggal : 21 - 09 - 2011 | 21:16:29
Menurut Maman S. Mahayana (dalam Sembilan Jawaban Sastra Indonesia. Jakarta: Bening Publishing, 2005; h. 362—363), dibandingkan dengan sejarawan, sastrawan sebenarnya memiliki ruang yang lebih leluasa ketika ia hendak menyampaikan refleksi evaluasinya tentang masa lalu. Secara subjektif, ia dapat memaknai dan menafsirkan fakta atau peristiwa sejarah menurut kepentingannya. Ia juga dapat menyampaikan alternatif lain di balik peristiwa-peristiwa sejarah.
“Pieter Akan Mati Hari Ini” lahir dari penafsiran saya terhadap peristiwa sejarah yang terjadi di Batavia, yaitu eksekusi hukuman Pieter Erberveld yang dituduh akan melakukan makar. Saya memanfaatkan tokoh Jan van de Marre, seorang penyair Belanda yang hidup di masa itu, sebagai narator atau
|
Ditulis tanggal : 21 - 09 - 2011 | 21:06:54
Sebagai seorang penulis--apalagi penulis pemula seperti saya--kadang kalau menerima kritik itu memang menjengkelkan. Bagaimana tidak? Kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat awal tulisan yang mantap, memikirkan ending yang aduhai, mencari metafora-metafora yang tidak kuno, memikirkan frasa-frasa yang menurut kita bertenaga, dan lain sebagainya. Tapi, ketika tulisan itu kita sebar ke orang lain, kok ya malah dikritik? Menyedihkan sekali, bukan? Padahal sebelumnya kita sudah yakin sekali bahwa tulisan kita ini adalah tulisan yang paling bagus senusantara. Kuntowijoyo sama Danarto mah lewat, begitulah kita berkata sehabis membaca tulisan yang baru selesai kita buat. Tapi, apa boleh buat, meskipun menjengkelkan, setidaknya kita
|
Ditulis tanggal : 09 - 09 - 2011 | 14:41:55
Apakah Anda pernah menulis dan tulisan Anda mengundang komentar buruk dari pembaca? Jika Anda seorang penulis yang sering mempublikasikan karyanya di media (cetak, internet, dll), tentu komentar—baik maupun buruk—merupakan keniscayaan yang Anda peroleh.
Jika komentar itu positif, tentu kita sangat berbahagia. Namun, bagaimana jika komentar itu negatif? Apa yang harus kita lakukan sebagai penulis?
Sebagai penulis, tentu kita tak mungkin melakukan apa-apa. Karena begitu karya tulis itu dipublikasi di ruang publik, maka penulis gugur seketika itu. Saya tidak sedang mengatakan bahwa teks itu otonom seperti yang dipahami para strukturalis. Sebab sebuah teks yang dikarang manusia tentu saja merupakan refleksi realitas yang telah
|
| | Kontak Kami Kantor FLP Pusat Alamat : Jalan Keadilan Raya Blok XVI NO 13 Depok Timur 16438, Depok Telepon : 021 9487 1657 (SMS) Fax : 021 9487 1657 Email : redaksiflp@gmail.com Support  | Humas

|
Komentar Terbaru indahsebuah karya....... yang indah. jg ... tobat...pak beye... pak beye...
istighfar, pak...tobat...
di ... BerkesanAlhamdulillah dengan acara FLP Jabar ... PuisiBagus puisinya. terharu.
Menulis Karya Sastra ... |