Sastra Kampung Halaman
Ditulis tanggal : 09 - 08 - 2011 | 11:53:44

“Bila kau jadi pengarang, jadilah pengarang yang santun.
Kau tak usah ikut-ikutan pengarang yang banyak bicara.
Lain yang ditulis, lain pula tindak tanduknya”

(Benny Arnas dalam cerpen “Anak Ibu”)



Apa itu sastra kampung halaman? Istilah ini barangkali memang belum populer dikalangan pecinta sastra Tanah Air. Hanya saja, kalau menelisik cerpen-cerpen Benny Arnas, pengarang muda dari Lubuklinggau, Palembang, sepertinya tak terlalu keliru kalau istilah itu dilekatkan pada karya-karyanya. Ya, Benny Arnas sang pengusung sastra kampung halaman.

 

Karya sastra yang lahir berdasarkan pengalaman kehidupan keseharian pengarangnya. Karya yang membawa unsur lokal dari daerah tempat di mana pengarang lahir dan tumbuh besar di sana. Meramunya, tentu tak melulu kenyataan keseharian saja yang diangkat, layaknya sebuah karya sastra, selalu mendapatkan bumbu wajib di dalamnya, yaitu imajinasi. Semacam itulah kira-kira warna sastra Benny Arnas dalam buku kumpulan cerpen terbarunya, “Bulan Celurit Api”

 

Dalam buku yang dilahirkan Penerbit Koekoesan ini, Benny Arnas mencoba mengangkat kisah-kisah yang idenya berangkat dari kenyataan keseharian yang ditemuinya. Dimulai dari cerpen  yang menjadi judul buku ini “Bulan Celurit Api”.  Berisi kisah yang merupakan kritik pengarang terhadap pergeseran nilai-nilai budaya setempat. Tokoh Mak Muna dihadirkan. Bercerita tentang sosok yang saat diundang dalam pesta pencalonan kepala desa, membayangkan akan ada acara anak-anak memainkan sandiwara yang melakonkan Dul Muluk atau pasangan muda-mudi menggayung sambut pantun adat. Sayang, yang terjadi malah orkes dangdut yang memainkan lagu “Kucing Garong”

 

Dalam karya lain yang cukup mengejutkan, judulnya  lumayan panjang “ Tentang Perempuan Tua dari Kampung Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan”.  Mudah ditebak, karya ini bercerita tentang  perjuangan kemandirian seorang perempuan yang gigih dan tegar. Menjalani hidup dengan kesabaran walau harus mengerjakan hal berat dalam kesehariannya Tidak mau bergantung pada belas kasihan orang lain. Sebuah cerpen yang dipersembahkan untuk neneknya tersayang.

 

Pembaca, dalam buku ini juga akan disuguhi dengan kisah yang berangkat dari mitos daerah setempat. Misalnya dalam cerita berjudul “Kembang Tanjung Kelopak Tujuh” dan “Bujang Kurap” Berkisah tentang bagaimana Kembang Tanjung menjadi mitos hantu bergentayangan serta Bujang Kurap yang sering menjadi bahan olok-olokkan padahal tokoh ini punya perangai yang baik. Mempunyai sikap mulia. Sebuah kisah di mana pengarang ingin mendudukkan orang bukan pada sifat luarnya, tapi pada sikap dan tingkah laku mulianya.

 

Membaca cerpen-cerpen Benny Arnas, seolah menjadi jeda tersendiri setelah sekian lama negeri ini “diserang” oleh pengarang-pengarang atas karya-karya pop. Cerita-cerita yang kebanyakan Jakarta sentris. Lengkap di dalamnya berisi logat “lu gue”  dengan narasi-narasi yang dangkal.  Tak semua, tapi sebagian besar karya-karya di pasaran  bercorak semacam itu. Memang,  kenyataan ini tak bisa disalahkan sebab karya-karya pop tersebut lahir karena tuntutan pasar. Belum lagi, serangan karya sastra “selangkangan” yang mengumbar vulgarisme, seksualisme, mengabaikan nilai-nilai moral (agama) maupun adat keTimuran. Karya-karya amoral yang berbahaya jika dikonsumsi generasi muda.

 

Nah, munculnya karya Benny Arnas ini seolah menjadi semacam mata air di padang gersang sastra kita. Patut mendapatkan apresiasi. Setidaknya, apa yang dilakukan pengarang muda ini turut andil dalam mengangkat nilai-nilai lokal, mengeksplorasi kekayaan budaya nusantara, mengolahnya ke dalam karya sastra. Selain bisa menjadi bacaan bermutu bagi kawula muda, sekaligus bisa mem “provokasi” mereka melakukan hal yang sama dalam berkarya sastra.


Namun, sebagai pengarang, Benny Arnas tak lepas dari kekurangan. Publik harus terus menerus melakukan kritik atas karya-karyanya. Terutama pada cerpen-cerpen bertema percintaan. Layaknya cerpen percintaan, pengarang kerap terjebak dalam godaan untuk  menampilkan adegan-adegan cerita erotis yang berseberangan dengan nilai-nilai moral. Bagaimana cerpen-cerpen Benny Arnas dalam terkait dengan soal ini?

 

Dalam cerpen “Surat Sajak yang Mengantarmu Pulang”  tak nampak adegan-adegan amoral.  Justru, menampilkan wajah yang cukup romantis, misalnya petikan kisahnya sebagai berikut   “Tahukah engkau, mengapa Tuhan menciptakan ruang-ruang kosong di antara jemari kita? Karena suatu saat, orang-orang yang tulus menyayangimu akan memenuhi ruang itu dengan memegang erat tanganmu. Selamanya”.

 

Hanya saja, Benny Arnas mulai  agak nakal dan sedikit liar dalam cerpen “Malam Rajam”.  Inilah saatnya publik harus menjaga dan turut serta mengawal pengarang kita ini agar imajinasinya terjaga, tidak jatuh pada kubangan kenistaan karya yang oleh Taufiq Ismail disebut SMS (Sastra Mahzab Selangkangan) pada cerpen-cerpen yang barangkali akan lahir sesudahnya.

 

Untungnya, Benny Arnas bukan penganut “The Dead of Author (Kematian Pengarang) yang didengungkan Roland Barthes. Seperti  ternukil pada cerpen “Anak Ibu” yang saya sebutkan pada awalan di atas, artinya Benny Arnas akan tetap konsisten dan bertanggungjawab atas karya yang dihasilkannya. Dan publik penikmat sastra boleh-boleh saja mengkritik karyanya jika ada yang kurang sesuai.  Sebagai pengarang anggota Forum Lingkar Pena (FLP), tentu saja karya-karya tak boleh bertentangan dengan ajaran Islam. Terakhir, tak berlebihan kiranya bahwa Benny Arnas, sang pengusung “Sastra Kampung Halaman” ini layak menjadi ikon sastra kontemporer. Yang karya-karyanya perlu diteladani dan terus dikaji. (*)

 

Dimuat di Sabili No 19 XVIII 26 Mei 2011/22 Jumadil Akhir 1432

 

*Yons Achmad. Pegiat Sastra. Humas FLP Pusat.


KOMENTAR

2 Komentar

aku berlindung dari godaan pengarang yang terkutuk
Dikirm oleh : ahmad faoan, tanggal 04 - 12 - 2011
cerpen ini sangat fantastis bila dibaca lalu merasuk jiwa.. :)
Sastra Kampung Halaman
Dikirm oleh : Eko Tardianto, tanggal 18 - 03 - 2012
Terima kasih, mungkin ini akan membawa dampak untuk karya saya selanjutnya.

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Judul :


Komentar :