Tokoh Cerpen yang Bulat dan Seimbang Ditulis tanggal : 23 - 09 - 2011 | 15:18:21 
MELEPAS Dahaga dengan Cawan Tua: Hikmah-hikmah Islami Klasik untuk Generasi Modern (Salamadani, 2011) karya Topik Mulyana berisi sepuluh cerita pendek. Lewat karya prosanya, Topik Mulyana menawarkan wacana sufisme di tengah kehidupan keseharian masyarakat modern kontemporer.
... Kehidupan masyarakat kontemporer dipengaruhi kuat oleh nilai-nilai materialisme, hedonisme, dan postmodernisme. Dalam cerpen “Guratan”, misalnya, kita betermu dengan tokoh profesor yang tampak mengamini kematian identitas. Kematian identitas merupakan salah satu ciri yang berkembang dalam masyarakat postmodern akibat kecenderungan hasrat yang mengalir tanpa interupsi.
Tokoh profesor tersebut tipikal manusia postmodern yang ingin melihat diri mereka, sebagaimana disebutkan Fellix Guattari, sebagai makhluk dengan beragam identitas, yang dapat mengekspresikan hasrat, kesenangan, ekstasi, dan kehalusan perasaan mereka, tanpa bergantung pada sistem added value dan sistem kekuasaan mana pun, kecuali hanya dalam semangat bermain (play).
Sang profesor digambarkan sudah sepuh, berambut putih, berkacamata bundar; eksentrik, flamboyan, soliter; cerdas, hangat, tapi kadang dingin menjengkelkan, sangat manusiawi. Bun (Rafi Bunaya Ahmadi), tokoh utama cerpen ini yang bertindak sebagai narator, seorang pemuda saleh yang rada polos, editor sebuah penerbitan buku islami, harus berurusan dengan sang profesor karena tidak sengaja menggurat badan mobilnya.
Sang profesor, sebagaimana digambarkan Bun, begitu abai pada agama, seakan Tuhan tidak akan mempersoalkan dosanya kelak. Dengan santainya sang profesor memperlihatkan dirinya sebagai penganut seks bebas, bahkan menawarkan Bun perempuan peneman dalam sebuah perjalanan di luar kota. Namun demikian, dari sang profesor Bun menemukan sifat egaliter yang tanpa tedeng aling-aling: orang tua itu tidak menempatkan Bun sebagai seorang pekerja atau orang yang sedang sial dan harus dihukum atau diolok-olok. Bahkan, karena Bun dilihatnya sebagai pemuda jujur, taat, dan bertanggung jawab, sesuatu yang sekarang katanya sudah jarang, Bun diberi hadiah mobil sebagai imbalan karena telah menjadi sopirnya selama seminggu.
Sang profesor, dalam pemikiran Guattari, merupakan contoh manusia skizofrenia di dalam masyarakat postmodern. Dia bisa zuhud dan melepas segala belenggu materi pada satu waktu, tapi pada waktu lain bisa pula hanyut di dalam ekstasi gaya hidup yang bahkan mengarah pada titik hiper (melampaui). Menurut Yasraf Amir Piliang dalam buku Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi, masyarakat postmodern tidak melihat kedua hal kontradiksi tersebut sebagai sesuatu yang perlu dipertentangkan. Masyarakat postmodern melihat kontradiksi dengan pandangan acuh-tak acuh—the cultural contradiction of postmodernism.
Menarik bahwa Bun kemudian menilai orang semacam sang profesor adalah orang yang telah menemukan kehidupannya. Sama misalnya ketika di lain waktu dia menemukan ada budayawan yang taat pada nilai-nilai agama. Dari orang semacam itu, Bun memperoleh pemahaman dan pengetahuan yang baru, segar, dan mencerahkan perihal Islam. Dengan kata lain, Bun yakin bahwa hidup adalah pilihan. Seseorang tidak bisa tinggal diam demi menentukan jalan kehidupannya.
Demikianlah. Tokoh Bun sebenarnya tengah mencari pencerahan spiritual dalam paradoks postmodernisme. Ia sedang menjalankan tugas sufisme, minimal untuk dirinya sendiri, di dalam era postmodernisme, yakni setidak-tidaknya meminimalkan berbagai paradoks masyarakat postmodern itu sendiri, melalui penyucian berbagai wacananya dari sifat-sifat dualistik, ketidakpastian, kekaburan, dan ekstremitas.
Lantas kita membaca Bun beruntung: dia bisa punya materi (mobil) sebagai rezeki yang datang pada saat dan dari arah yang takterduga. Tentu saja ini bukan perkara bisa punya kendaraan semata, soal pemburuan materi atau pemuasan hasrat duniawi sebagaimana obsesi atau kecenderungan masyarakat kontemporer yang materialistik dan kapitalistik. Tetapi dalam hal ini tentang rahmat dan rahim Tuhan, sesuatu yang transenden yang punya logikanya tersendiri. Juga di ending cerita—di mana Topik menyilakan pembaca menyusun sendiri kisah manis lanjutannya—kita melihat bukti lain bahwa Tuhan punya kejutan indah bagi umat-Nya yang punya akhlak mulia.
Kemudian, soal hasrat tentu saja soal sentral dalam wacana postmodernisme. Demikian juga dalam soal sufisme dan wacana spiritualitas pada umumnya. Dapat dikatakan, dua wacana ini, postmodernisme dan sufisme, saling berlomba memperebutkan kecenderungan hasrat manusia. Jika postmodernisme hendak membebaskan hasrat dengan menciptakan ruang-ruang cair dan terbuka, takberkatup, transparan, tanpa batas, maka sebaliknya sufisme ingin mengendalikan, memurnikan, dan membersihkan hasrat manusia dari sifat rendah materi sehingga ia mencapai tingkat hasrat (nafs) yang tenang (al-nafs al-muthma’innah), yang dapat membawa hasrat menjauh dari kesenangan materi dan hewani menuju kedekatan dengan tempat Yang Mahakuasa.
Dalam kehidupan kontemporer, tentu saja keadaan paradoks atau ketidakjelasan dan kebingungan hampir tidak terhindarkan. Sebab memalingkan masyarakat dari segala bentuk materi, di tengah dunia yang justru sangat tergantung pada materi (teknologi transportasi, komunikasi, pendidikan, kesehatan), adalah sesuatu yang amat sulit, kalau tidak dikatakan mustahil. Termasuk yang menjadi tantangan bagi sufisme dalam masyarakat kontemporer adalah hipermoralitas, yang dalam beberapa cerpen Topik Mulyana menyempit pada soal (hasrat) seksualitas, seperti dalam “Lelaki Separuh baya” dan “The Photograph”.
Dalam “Lelaki Separuh baya”, Wiang Purbayana diganggu pikirannya sendiri tentang moralitas ketika dia hendak berzina dengan seorang perempuan muda. Pikiran Wiang terlempar pada sosok anaknya yang terbayang telah berusia matang seperti perempuan di hadapannya. Dari cerita, dapat diketahui bahwa Wiang sebenarnya menghormati Islam dan keberislaman. Dia ingin kalaupun putrinya berenang di tempat umum, pakaian renang yang dipilih adalah pakaian renang muslimah. Namun, dalam “bayangannya” dia melihat putrinya memilih kehidupan hedonis dan sekular. Anaknya mengoceh bahwa bukankah ayahnya sendiri yang mengajarkan dia untuk bebas memilih kehidupannya sendiri, termasuk dalam soal beragama.
Ocehan anak Wiang dalam pikirannya itu menunjukkan kepada kita banyak persoalan. Antara lain perihal perangkap gaya hidup yang tentu saja merupakan tantangan berat bagi pencerahan spiritual—khususnya sufisme—disebabkan kondisi sosial masyarakat postmodern adalah sebuah kondisi, tempat manusia diperangkap di dalam jagat materi dan gaya hidup yang bersifat permukaan.
Dalam masyarakat postmodern, masyarakat dikonstruksi secara sosial ke dalam berbagai ruang gaya hidup, yang menjadikan mereka sangat bergantung pada irama pergantian gaya, citra, status yang ditawarkan di dalamnya. Gaya hidup, oleh karenanya, terasa mengalir. Dalam pandangan pemikir Jean Baudrillard, gaya hidup yang mengalir menciptakan mayoritas yang diam, yaitu mereka (massa) yang tidak menolak dan menampik apa pun, selama apa yang disuguhkan pada mereka adalah permainan gaya, citra, dan tontonan. Mereka tidak terlalu peduli dengan kedalaman makna atau spirit di balik tontonan dan citra tersebut. Dengan kata lain, menurut Jean Baudrillard, mereka hanya menginginkan tanda, mereka memuja permainan tanda-tanda.
Hal itulah antara lain yang memerangkap Wiang Purbayana. Akan tetapi kemudian, dia dapat keluar dari dilema hipermoralitas; Wiang pun urung berzina dengan perempuan muda itu. Lelaki paruh baya itu berhasil mengekang hasratnya karena dijawil suara murni dari hatinya yang menguat berkat ingatan akan putrinya—institusi keluarga. Demikian juga dalam cerpen “The Photograph”, benteng penjaga tokoh Amar dalam mengendalikan hasrat keremajaannya yang tengah bertualang dalam ngarai curam seksualitas, ialah institusi keluarga.
“Sejurus kemudian, ia membuka laptop. Begitu layar terbuka, dilihatnya sebagai latar desktop potret gadis mungil berusia enam tahunan bermata runcing, berhidung mungil, dan berpipi padat sedang tersenyum lebar lengkap dengan lesung pipit mengapit senyumnya itu. Mata Wiang terasa panas. Lalu, mengalirlah air mata yang hangat itu melalui kedua pipinya.” (“Lelaki Separuh baya”, hlm. 58)
“Benjolan pada kening Attar menjadi semacam monumen peringatan baginya. Seandainya istrinya tidak meneleponnya tadi malam, entah apa yang terjadi antara dirinya dan Adel. Barangkali akan lebih dari sekadar sentuhan-sentuhan tangan lentik itu pada tangannya atau gaun hitam tipis yang menutupi tubuh semampai itu.” (“The Photograph”, hlm. 189-90)
Cerpen “Kulkas” simbolik dan performatif menyinggung polusi spiritual di dalam masyarakat postmodern. Damar tidak ingin memiliki kulkas agar hidupnya berjalan sealami mungkin. Dia percaya tidak akan mati karena tidak punya kulkas. Istrinya bukan tidak pernah menyarankan untuk membeli kulkas agar pekerjaan dapur lebih efisien, tapi Damar tetap kukuh dengan pendiriannya.
Dalam sebuah acara olah raga sungai, Damar meninggal dunia setelah mencoba menyelamatkan rekannya yang tenggelam. Dalam cerita ini Damar memang berperan sebagai damar, lampu atau pelita kecil. Seperti sebatang lilin, ia mati sendiri setelah menerangi dunia sekitarnya yang tampak terbatas. Dalam pemakaman suaminya, istri Damar keheranan mendapati begitu sangat banyak sekali orang yang hadir memakai pakaian serba putih. Kemudian, pada malam hari usai pemakaman, dia mengalami pengalaman spiritual di mana nama suaminya disebut-sebut sebagai seseorang yang sangat dihormati di alam sana.
Gaya hidup Damar yang tidak populer, misalnya, karena tidak mau punya kulkas, ternyata menyembunyikan makna yang lain yang lebih agung dan langgeng. Ini tentu saja bisa dianggap sebagai pesan ajaran keseimbangan yang sufistik di tengah perkembangan masyarakat konsumer dengan segala polutan spiritualnya: perayaan nilai-nilai kebendaan dan budaya postmodern yang memuja pelepasan hasrat dan nilai-nilai permukaan.
Menurut Yasraf Amir Piliang, di tengah spirit materialisme dan konsumerisme, sufisme antra lain dapat membawa jalan keseimbangan, antara waktu material dan waktu spiritual. Kecepatan dan kepanikan konsumerisme dapat diredam melalui kedalaman spiritualitas. Gaya hidup berkeseimbangan adalah gaya hidup dengan tempo kehidupan yang diperlambat; waktu konsumsi (desire) diimbangi dengan waktu kontemplasi (spirit). Ketahanan batin terhadap godaan materialisme, konsumerisme, dan hasrat populer hanya dapat dibangun dengan tidak membiarkan dunia fisik itu menguasai batin, dengan mengombinasikan secara berimbang waktu konsumsi, kontemplasi, dan sosialisasi. Jika orang memperbanyak ruang bagi kontemplasi, maka pengaruh materi dan penampakannya dapat diminimalisasikan sehingga tanpa perlu meninggalkan konsumsi orang dapat keluar dari perangkap konsumerisme. Dengan kata lain ia bisa meraih kebulatan dan keseimbangan.
Dan Topik Mulyana sebenarnya mengarahkan tokoh-tokohnya dalam buku Melepas Dahaga dengan Cawan Tua ini pada sosok-sosok yang bulat dan seimbang.
Bandung, 22 September 2011
Wildan Nugraha. Kritikus Sastra
|