Social Entrepreneurship ala Forum Lingkar Pena Ditulis tanggal : 14 - 09 - 2011 | 16:35:44 
Dari sebuah komunitas kecil, kini Forum Lingkar Pena beranggotakan ribuan orang dan menghasilkan banyak karya, di antaranya menjadi best seller dan diakui secara internasional. Kini, agar kehidupan kalangan penulis lebih sejahtera, ranah bisnis dunia tulis-menulis pun digarapnya.
Bagi kalangan pencinta buku, nama Forum Lingkar Pena (FLP) mungkin tak asing lagi. Padahal, ketika berdiri pada 1997, komunitas penulis ini hanya beranggotakan 30 orang. Siapa sangka, keanggotaan komunitas yang diprakarsai Helvy Tiana Rosa di masjid Universitas Indonesia ini berkembang pesat. Kini total anggotanya 7 ribu orang, 50%-60% di antaranya anggota aktif, mayoritas berusia 25-45 tahun, dan 75% anggota adalah perempuan. Saat ini, anggota termuda yang tercatat adalah seorang anak berusia lima tahun. Hebatnya, 500 orang di antaranya telah menulis (menerbitkan) buku.
Menurut Helvy, ketika seseorang bergabung di FLP, ia dihargai sebagai orang yang concern pada dunia tulis-menulis. “Nggak memaksa harus jadi penulis, tetapi harus ada penulis baru yang lahir setiap bulan,” ujar wanita kelahiran Medan, 2 April 1970, dari pasangan Amin Usman dan Maria Eri Susianti ini.
Kehadiran FLP pantas dianggap sebagai fenomena tersediri. Sebab, forum ini berhasil menjadi wadah bagi berbagai kalangan — mahasiswa, pegawai, ibu rumah tangga, buruh, anak jalanan, hingga pembantu rumah tangga — untuk menulis. Selama ini seorang penulis identik dengan sosok yang eksklusif. Adapun melalui wadah ini penulis bisa berasal dari mana saja.
Eksistensi FLP dalam dalam dunia kesusastraan Indonesia semakin kuat jika melirik sejumlah nama terkenal yang lahir dari lembaga ini. Misalnya saja, Habiburrahman El Shirazy (FLP Mesir) yang terkenal dengan novel Ayat-ayat Cinta.
Nama yang juga cukup mencorong adalah Asma Nadia. Dua bukunya, Rembulan di Mata Ibu (Mizan, 2000) dan Dialog Dua Layar (Mizan 2001), menjadi buku terbaik tingkat nasional (Adikarya) versi Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) 2001-02. Karya itu juga mengantarkannya sebagai Pengarang Terbaik Tingkat Nasional pilihan Ikapi. Tak sampai di situ, pada 2003 ia didaulat sebagai Pengarang Terbaik versi Penerbit Mizan. Wanita berkerudung ini memang sangat produktif. Ia mampu menghasilkan 10 buku dalam setahun. Jangan heran, baru-baru ini Asma mendapat penghargaan dari Majelis Sastra Asia Tenggara.
Adapun Helvy pernah didaulat MetroTV sebagai salah satu dari 10 Penulis Wanita Paling Populer pada 2009. Penghargaan ini tidak terlalu berlebihan jika menilik prestasi wanita yang tercatat sebagai anggota Majelis Sastra Asia Tenggara ini. Penyandang gelar sarjana dan magister di bidang sastra dari UI ini telah menulis lebih dari 40 buku. Bahkan, cerita-serita pendek karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Arab, Prancis, Jerman, Jepang dan Swedia.
Tak banyak orang yang punya energi kuat seperti Helvy. Melalui FLP, ia mampu membangun komunitas yang demikian besar dan menggerakkannya hingga bisa berkarya seperti sekarang. Selain keanggotaannya terus membengkak, jaringan forumnya pun kian menyebar. Kini FLP memiliki 123 cabang di 29 wilayah di Indonesia. Yang luar biasa, FLP telah memiliki 13 cabang di luar negeri, yakni di Mesir, Eropa, Jepang, Amerika Utara dan Kanada, Hong Kong (beranggotakan para pembantu rumah tangga asal Indonesia di negeri itu), Singapura, Sudan, Malaysia, Yaman, Jerman serta Arab Saudi. “Strategi saya adalah membina hubungan baik dengan siapa pun,” ujar Helvy tentang keberhasilannya membangun organisasi FLP.
Proses membentuk komunitas kecil menjadi komunitas yang kuat seperti sekarang jelas tak mudah. Namun, bila kita melihat program kerja FLP, prestasi yang dicapai ini seperti sebuah keniscayaan saja. Salah satu kunci keberhasilan komunitas ini adalah konsistensi dalam berorganisasi dan spirit dalam segala keterbatasan. Program-programnya sangat intensif dan membumi .
Soliditas komunitas ini juga tampak dari disiplin organisasinya. Setiawati Intan Savitri, Ketua FLP 2009-13, mengungkapkan bahwa di komunitasnya setiap anggota baru akan dibuatkan kartu anggota serta diberi modul penulisan dan modul kaderisasi. Di sisi lain, setiap tahun anggota diminta melakukan registrasi ulang. Jika ada anggota yang tidak melakukan registrasi ulang, ia dianggap bukan anggota lagi dan segera dikeluarkan dari mailing list (milis) anggota FLP. Padalah, di milis inilah informasi seputar penerbitan beredar, biasanya seputar penerbit mana yang sedang perlu naskah tertentu. “Dia akan kehilangan akses untuk dapat info jejaring penerbit,” ujar Intan yang lahir di Jakarta, 12 April 1972.
Kendati mayoritas anggotanya muslim, Helvy menegaskan bahwa FLP bukanlah organisasi penulis yang eksklusif. “Di (organisasi) kami ada juga yang Katolik, dan di FLP Bali kan kebanyakan orang Hindu,” ungkap sarjana sastra dari Fakultas Sastra UI ini. Ia menuturkan hal itu karena FLP kerap disorot secara tidak fair lantaran banyaknya anggota perempuan yang berjilbab. Misalnya, ada yang mengatakan, FLP eksklusif. Hal ini diamini Intan. “Setiap agama mengajarkan kebaikan dan selama karyanya mencerahkan dan bernilai kebaikan, itu adalah bagian dari kami,” ujar lulusan Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta ini.
FLP membagi anggotanya dalam empat kategori, yaitu Mula, Muda, Madya dan Andal. Anggota Mula adalah anggota yang betul-betul baru belajar menulis. Anggota Muda adalah anggota yang tulisannya pernah dimuat di media massa. Anggota Madya adalah anggota yang bukunya sudah diterbitkan oleh penerbit umum (bukan diterbitkan sendiri). Terakhir, anggota Andal; yang masuk kategori ini adalah anggota yang karyanya sudah diakui secara internasional. Ada lima anggota FLP yang masuk kategori Andal, antara lain Helvy, Habiburrahman El Shirazy dan Asma.
Dengan jumlah anggota ribuan, Intan percaya, FLP punya potensi yang sangat besar ke depan. “Selain punya penulis, kami juga punya basis konsumen yang mau membeli karya anak-anak FLP,” ujar wanita bernama pena Izzatul Jannah ini. Helvy menambahkan, untuk mengembangkan jejaring, FLP tidak hanya merekrut orang-orang yang baru akan belajar menulis, tetapi juga penulis yang sudah punya nama seperti Gola Gong.
Meski kegiatan dan karyanya seabrek, sumber dana FLP untuk menjalankan roda organisasi tak seperti yayasan atau lembaga lain yang ditopang konglomerat/pengusaha atau nama besar lainnya alias rada terbatas. Diungkapkan Intan, saat ini ada beberapa sumber pendanaan FLP, yaitu iuran anggota, keuntungan dari penyelenggaraan acara yang bersifat komersial, hasil mengirimkan pemateri FLP untuk acara pelatihan menulis yang diselenggarakan korporat, dan sumbangan tidak mengikat. Saat ini iuran anggota sebesar Rp 150 ribu/tahun. Dari nominal ini, Rp 55 ribu diserahkan ke FLP Pusat, dan Rp 95 ribu untuk cabang. Anggota yang telah menerbitkan buku diimbau menyumbangkan sebagian pendapatannya (dari buku yang dijual) untuk organisasi. Pengurus di tingkat cabang juga kerap membuat berbagai merchandise seperti kaus dan pin FLP.
Menurut Helvy, sebenarnya banyak pihak yang ingin memberi dana, mulai dari partai politik sampai perusahaan rokok. Namun, hingga sekarang FLP belum pernah menerima bantuan dana besar dari pihak mana pun. Satu-satunya lembaga yang pernah membantu FLP adalah Dompet Dhuafa, yakni dalam bentuk pembangunan Rumah Cahaya (Rumah baCA dan HAsilkan karYA).
Bagaimana dengan pola pembinaannya? Intan menjelaskan, anggota baru akan diajak untuk hadir di setiap kegiatan FLP. Di sisi lain, untuk menciptakan aktivitas, tiap cabang diharuskan mengadakan minimal sekali bedah karya setiap bulan untuk kalangan internal, plus 2-3 kali bedah buku yang ditujukan untuk umum. “Yang sekarang masih kurang adalah kritikus bagi karya-karya FLP,” kata wanita yang telah menghasilkan 20 novel, 15 kumpulan cerpen, 15 judul cerita anak, dan lima buku nonfiksi di bidang psikologi ini.
Ali Muakhir mengungkapkan, setelah bergabung dengan FLP, ia memperoleh banyak manfaat. “Ternyata, penulis atau profesi apa pun perlu komunitas,” ujar pria yang telah menulis 370 buku dengan spesialisasi buku cerita anak ini. Salah satu manfaatnya adalah untuk memberi dukungan, misalnya ketika sedang tidak mood. Namun, menurut pengamatannya, orang yang bergabung punya motivasi berbeda: ada yang mau belajar menulis, ada juga yang merasa sudah bisa menulis tetapi ingin dekat dengan penerbit, dan sebagainya.
Jika kita mencermati perjalanannya, FLP tak semata mengurusi komunitas penulis, tetapi juga mengembangkan potensinya menjadi sebuah bisnis. Hal ini nampak dari kehadiran tiga entitas lembaga dalam FLP, yaitu Lingkar Pena Publishing House (LPPH) pada 2003, Agen Naskah (literary agent) dan, yang terbaru, Sekolah Menulis. Kehadiran tiga entitas ini tampaknya merupakan upaya FLP melakukan transformasi dari komunitas sosial biasa menjadi lembaga yang juga memikirkan pendapatan tanpa melepaskan misi sosialnya.
Intan mengungkapkan, dalam organisasi FLP sebenarnya ada sejumlah divisi. Selain divisi fund-raising, kaderisasi, kurikulum, pelatihan, kritik & karya, serta Rumah Cahaya, ada pula divisi bisnis. Divisi inilah yang memikirkan pengembangan bisnis FLP yang di dalamnya ada LPPH, Agen Naskah dan Sekolah Menulis.
LPPH merupakan hasil kerja sama dengan Mizan. Penerbitan ini berada di bawah naungan Yayasan Lingkar Pena dan PT Lingkar Pena Kreativa dengan kepemilikan FLP 20% dan Mizan 80%.
Menurut Novel Fary, Vice President – Controller PT Mizan Publika, inisiatif mendirikan LPPH berasal dari Mizan. Alasannya, Mizan melihat di FLP terdapat banyak orang muda yang menghasilkan karya tulis tetapi masih kesulitan mencetaknya menjadi buku. “Tentu ada aspek bisnisnya, tetapi yang paling penting adalah ada potensi dari anak-anak muda kita yang seharusnya kami naungi,” ujar Novel. Ia mengakui, sebenarnya 100% modal berasal dari Mizan, tetapi Yayasan Lingkar Pena diberi golden share 20% saham. “Mereka (anak-anak FLP) yang lebih banyak me-manage, melakukan koordinasi, mengembangkan naskah, dan kami hanya memberikan sentuhan manajemen agar bisa berjalan sesuai dengan bisnis yang sehat,” paparnya sambil menegaskan, tak ada orang Mizan dalam pengelolaan LPPH. Namun, untuk pengembangannya, ada dukungan dari sisi manajemen, keuangan dan pemasaran. Begitu juga untuk distribusi, LPPH memakai jalur distribusi yang biasa digunakan Mizan.
Sebenarnya, selain dengan LPPH, FLP pun bekerja sama dengan lebih dari 50 penerbit. Menariknya, meskipun telah memiliki jaringan yang demikian besar, di setiap cabang FLP juga sering menerbitkan karya sendiri secara indie dan diperjualbelikan di lingkungan teman-teman sendiri. Belakangan, anak-anak FLP banyak yang akhirnya bekerja di industri penerbitan. Bahkan, ada pula yang mendirikan penerbitan sendiri. Hal itu justru dinilai Intan sebagai dampak baik kehadiran FLP. “Ya, karena jejaring itu,” ujarnya.
LPPH mulai menerbitkan buku pada 2004. Jenis buku yang diterbitkan adalah fiksi untuk remaja muslim. Namun, sejak 2007 LPPH merambah nonfiksi seperti panduan untuk remaja muslim, panduan keagamaan, kesehatan dan traveling. “pasar kami remaja dan wanita,” ujar Rahmadiyanti Rusdi, CEO LPPH.
Diyan, begitu mantan Redaktur Pelaksana Majalah Annida itu akrab disapa, mengungkapkan dalam sebulan LPPH mampu menerbitkan 5-6 buku, dan biasanya satu di antaranya menjadi best seller. Target LPPH, “Tahun ini menerbitkan 10 buku sebulan,” kata alumni Fakultas Sastra UI itu. Ia mengakui, kinerja LPPH dari 2004 hingga awal 2010 naik-turun.
Pada 2004, total buku yang diterbitkan mencapai 33 judul. Jumlah ini mengalami peningkatan pada 2005, yaitu 47 buku. Namun, penurunan terjadi pada 2006, dengan jumlah buku yang dihasilkan hanya 18 judul. Setelah itu, kinerja LPPH terus meningkat hingga mencapai 54 judul pada 2008. Akan tetapi, pada 2009 jumlah buku yang dirilis turun lagi menjadi 48 judul. Alhasil, total buku yang dihasilkan hingga awal 2010 sebanyak 240 judul.
Visi FLP adalah menghadirkan penerbitan berbasis lokal atau daerah. “Arahnya nanti ke sana,” kata Intan. Hal ini untuk merealisasi salah satu misi FLP, yaitu memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi kalangan penulis, karena penulis akan hidup lebih baik jika ada penerbit yang menerbitkan karyanya dan kemudian mampu memasarkan dengan baik. “Seandainya punya penerbitan sendiri di setiap wilayah, setidaknya dia punya pasar sendiri di tiap provinsi,” tambahnya.
Entitas bisnis kedua setelah LPPH adalah Agen Naskah, yang hadir untuk menjembatani penulis baru dengan perusahaan penerbitan. Intan menuturkan, di Indonesia biasanya penulis langsung berhubungan dengan penerbit, tetapi di negara-negara maju umumnya setiap penulis berada di bawah satu agen naskah. Agen inilah yang menangani semua urusan penulis yang terkait dengan penerbit. Umumnya, penulis baru banyak yang belum paham soal ini. Agensi ini juga membantu agar para penulis yang baru mengenal dunia penerbitan tidak tertipu penerbit yang nakal.
Untuk Sekolah Menulis, modelnya adalah kerja sama dengan sekolah menengah. Sekolah ini baru dimulai Februari lalu di Jambi. Syaratnya, jika di satu wilayah ada empat sekolah yang mau melakukan kerja sama, Sekolah Menulis bisa dimulai. Satu angkatan 100 orang. Setiap peserta dikenai biaya Rp 200 ribu. Sekolah akan dilangsungkan selama dua bulan dengan dua kali pertemuan setiap minggu. Total ada 16 kali pertemuan. Setelah dua bulan, murid Sekolah Menulis bisa bergabung dengan FLP jika mau. Nah, karya peserta yang bagus bisa disalurkan ke Agen Naskah FLP yang akan memfasilitasi pertemuan penulisnya dengan penerbit yang tertarik dengan naskah tersebut. “Yang di Jambi ini akan jadi pilot project kami,” ujar Intan bersemangat.
Sebelum ada Sekolah Menulis, sejak 2004 FLP sebenarnya sudah menjalankan kegiatan “sekolah menulis” untuk siswa SD dan SMP lewat pendirian FLP Kids pada tahun yang sama. Bekerja sama dengan sekolah-sekolah, program ini dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler menulis. Kegiatan ekskul menulis ini telah dijalankan di lima sekolah di Surakarta dan tiga sekolah di Kalimantan Timur. Target kegiatan ini adalah untuk menggiatkan aktivitas membaca dan menulis.
Yang jelas, selama 13 tahun perjalanannya, FLP telah membuahkan banyak karya yang mungkin dulu tak terbayangkan para pendirinya. Lantas, apa lagi target para pendiri dan pengurusnya? Intan mengaku masih ingin membenahi administrasi dan pola organisasi FLP. Tujuannya, “Agar kami memiliki tata kelola organisasi yang baik,” ujarnya. Tahun berikutnya, pihaknya akan mulai membenahi aspek kegiatan agar bisa memberi lebih banyak sumbangsih bagi bangsa ini.
Adapun Helvy mengaku selalu teringat kata-kata Taufik Ismail (2002) bahwa suatu organisasi bisa pecah karena ideologi, pilihan politik dan masalah uang. ”Itulah yang selalu kami jaga,” ujarnya tandas. Ia pun percaya, peradaban suatu bangsa bisa diukur dari berapa banyak orang dalam bangsa itu yang biasa membaca dan menulis. (*) (Yuyun Manopol, Majalah Swa).
|