Resensi Madre Sebagai Pertanyaan Berbuah Cerita
Ditulis tanggal : 10 - 08 - 2011 | 20:03:34

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul Buku : Madre
Penulis : Dewi “Dee” Lestari
Penyunting: Sitok Srengenge
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2011
Tebal: 160 halaman


Apa itu Madre, cerita tentang apa itu? Inilah yang menggedor-gedor rasa ingin tahu saya segera membaca cerita karya terbaru Dee ini. Dalam kata pembuka, Dee mengaku, sering dalam melahirkan karya kreatif Ia memulai proses berkarya dengan bertanya. Dan, rupanya yang demikian pun mengena. Contohnya nampak pada judul buku cerita ini. Yang juga membuat pembaca bertanya-tanya juga dan tergoda mengetahui lebih detail isinya. Nah, Madre, boleh dikata endapan pertanyaan yang berbuat cerita.

Provokasi untuk membaca buku ini tambah membuncah. Terlebih, sebelum halaman cerita dimulai, sang penyunting, Sitok Srengenge menyanjung setinggi gunung karya ini. Baiklah, untuk kali ini saya kalah dan rela waktu tersita untuk membaca karya ini. Tak perlu waktu banyak memang, tak perlu seharian, cukup beberapa jam tuntas membaca semua cerita dalam buku ini.

Jujur, saya hanya tertarik pada cerita Madre, cerita lainnya saya kurang suka. Apalagi puisinya. Barangkali Dee memang ditakdirkan sebagai penulis cerita yang baik, tapi tidak sebagai penyair. Tapi entahlah, mungkin ini hanya soal selera saja. Anda mungkin suka, tapi saya tidak. Begitu sebaliknya. Seperti Dee selalu mengagungkan peminum kopi dalam cerita-ceritanya. Tapi tetap saja, saya lebih suka secangkir teh dalam dunia nyata.

Cerita ini. Ya, bermula dari pertanyaan. Baca sampai halaman 9, Dee terus menunda sejauh itu untuk sampai ke jawaban tentang Madre itu apa. Bukan Madre itu siapa. Ya, itu ternyata baru ketahuan kalau Madre itu Adonan putih keruh. Roti. Nah, sampai sini saya malah terlanjur penasaran dan bertanya-tanya, bagaimana kelanjutan ceritanya.

Madre. Diawali dengan kisah Tansen, lelaki Bali yang datang ke Jakarta untuk mendapatkan warisan dari orang tak dikenal sebelumnya. Bukannya uang berlimpah atau harta karun, tapi Madre: Adonan. Mulanya kecewa, jauh-jauh datang dari Bali hanya untuk mendapat barang yang dinilainya remeh itu.

Tapi, Madre telah membuka rahasia. Dia menjadi tahu siapa sebenarnya kakeknya. Seorang pengusaha roti. Seorang kakek yang ingin mewariskan resep itu kepada generasi keturunannya. Dialah Tansen.

Pelan-pelan, cerita berjalan. Tansen menulis blog tentang Madre yang dibaca oleh Mei, pengusaha roti sukses di Jakarta. Madre yang ternyata artinya Ibu. Yang tak mungkin tega Tansen menjualnya. Lantas, bertemulah mereka dan menghidupkan kembali toko roti yang sudah 5 tahun berhenti itu. Romantisme, humor muncul, yang kemudian menjadi nyawa cerita ini. Tak perlu saya sebutkan, tapi coba baca, nanti akan merasakan bau romantisme dan humor yang menghibur dan menyegarkan itu.

Berbeda dengan karya Dee sebelumnya “Perahu Kertas” yang agak berbau rada sinetron atau filmis. Dalam cerita “Madre” ini, sepertinya nampak sekali Dee mencoba untuk membuat narasi yang memukau. Narasi-narasi yang boleh jadi berusaha untuk menusuk langsung ke Jantung. Bukan pada masalah utama, namun kadang terlontar dari komentar keseharian yang barangkali sering ditemukan.

Misalnya komentar diam-diam dalam hati Tansen terhadap tampilan Mei yang anak Jakarta itu saat pertamakali bertemu. “Ia berpakaian sepuluh tahun lebih tua dari umurnya” Coba bayangkan bagaimana rasanya kalau komentar itu disampaikan terbuka apalagi di muka umum pada seorang cewek yang lagunya sok ngefesyen tapi tetap saja nampak norak. Tentu murka dia. Ini contoh narasi yang mungkin remeh, tapi mencoba menusuk langsung ke Jantung. Dee berhasil melakukannya.

Selebihnya, saya menilai karya Dee ini lebih berbau humanis. Ia mencoba mencari sisi kemanusiaan dalam setiap peristiwa, dalam setiap obyek. Corak yang hampir mewarnai setiap karya-karyanya. Namun, bagaimana rasa karya Dee ketika bergumul dengan religiusitas atau spiritualitas? Barangkali cerita itu akan menjadi novel karyanya setelah Madre. Semoga saja. (*)

*Yons Achmad. Penulislepas, penikmat sastra, secangkir teh dan senja.


KOMENTAR

2 Komentar

Salam Teh manis
Dikirm oleh : Ef Fidra, tanggal 19 - 09 - 2011
Benar..Dee hampir saja kehilangan popularitasnya jika saja Madre biasa-biasa saja. terbiasa dengan karya dee yang umumnya novel tiba-tiba melahirkan kumpulan cerita. selain Madre, layang-layang starla cukup menghibur selebihnya biasa saja...setelah baca habis saya cuma berpikir yah...50.000 untk cerita sebagus madree ga papalah.. saya hanya bayangkan andai Madre itu novel pasti kren sayang dee terlkalu cepat menyelesaikannya...dan saya sepakat, teh manis jauh lebih enak dari pada kopi
Cover Madre menggoda !!
Dikirm oleh : Vini Triani, tanggal 17 - 04 - 2012
Saya salah satu pecinta DEE (meskipun SUPERNOVA blm sempat saya baca).
Cerita Madre memang terdengar lebih Humanis.
Tapi kok saya lebih suka FILOSOFI KOPI dan RECTOVERSO yah..
Madre kurang membuat saya terkejut dan deg-degan ... cenderung datar meski tetap memukau karena pesona DEE yang terlanjur melekat.

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Judul :


Komentar :